DI YOGYAKARTA — Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia memutuskan menahan suku bunga acuan atau BI Rate di level 5,75% pada Rabu (23/9/2026). Keputusan tersebut mempertahankan suku bunga deposit facility di 4,75% dan lending facility di 6,5%. Langkah ini dinilai menjadi angin segar bagi pasar saham di tengah tekanan eksternal yang masih kuat.
Kebijakan moneter tersebut diambil di tengah tekanan eksternal yang masih kuat, sembari tetap mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan di dalam negeri. Bagi pelaku pasar, keputusan ini dinilai menjadi angin segar bagi pasar saham.
Riset Phintraco Sekuritas mencatat spread antara suku bunga acuan BI Rate dan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (AS) saat ini berada di 1,75%, turun dari sebelumnya 2%. Meski menyempit, spread tersebut masih lebih lebar dibanding rata-rata spread selama tiga tahun yang berada di rentang 0,75–1,25%.
"Melebarnya spread bertujuan memberikan interest rate differential yang cukup menarik bagi investor asing guna memperkuat stabilitas mata uang rupiah," tulis riset Phintraco.
Dengan kata lain, imbal hasil aset berdenominasi rupiah masih kompetitif di mata investor asing. Kondisi ini menjadi bantalan bagi stabilitas nilai tukar rupiah di tengah ketidakpastian global.
Dari sisi intermediasi, pertumbuhan kredit perbankan pada Agustus tercatat 13,65% secara tahunan (year-on-year/yoy). Angka tersebut sedikit lebih tinggi ketimbang bulan sebelumnya yang naik 13,58% yoy.
Pertumbuhan kredit yang tetap dua digit menunjukkan fungsi intermediasi perbankan berjalan tanpa hambatan berarti. Sektor perbankan pun masih memiliki ruang untuk menyalurkan kredit tanpa harus menaikkan bunga secara agresif.
Bagi investor saham, suku bunga yang ditahan di level 5,75% berarti biaya modal tetap stabil. Obligasi negara juga tidak langsung memberikan imbal hasil yang jauh lebih menarik dibandingkan pasar saham.
Kondisi tersebut membuat alokasi ke aset berisiko, termasuk saham, tetap relevan. Sektor perbankan dan konsumer biasanya menjadi yang paling diuntungkan ketika suku bunga tidak naik.
Stabilitas rupiah yang terjaga juga mengurangi risiko capital outflow. Investor asing cenderung menahan posisi di pasar domestik ketika selisih bunga dengan AS masih cukup lebar seperti saat ini.
Pasar akan mencermati arah kebijakan bank sentral AS berikutnya. Jika The Fed menurunkan suku bunga, spread bisa melebar kembali dan memperkuat posisi rupiah.
Sebaliknya, jika tekanan eksternal meningkat, Bank Indonesia memiliki ruang terbatas untuk melonggarkan kebijakan. Spread saat ini memang masih di atas rata-rata tiga tahun, tetapi tidak lagi selebar sebelumnya.
Pelaku pasar tampaknya akan menempatkan saham-saham dengan fundamental kuat dan sensitivitas tinggi terhadap suku bunga sebagai pilihan utama. Sektor perbankan, properti, dan konsumer menjadi yang paling sering disorot dalam situasi seperti ini.