YOGYAKARTA — Orang tua di Yogyakarta perlu mewaspadai perbedaan mendasar antara alergi protein susu sapi dan intoleransi laktosa pada anak. Komunikator Kesehatan dr. Laurencia Ardi mengingatkan bahwa kedua kondisi ini membutuhkan penanganan yang tidak sama karena penyebabnya berbeda.
"Alergi protein susu sapi melibatkan respons sistem imun, sedangkan intoleransi laktosa berkaitan dengan kemampuan tubuh mencerna laktosa," kata dr. Laurencia dalam siaran pers yang diterima di Jakarta, Sabtu (27/6/2026).
Menurut dr. Laurencia, alergi protein susu sapi yang tidak ditangani dengan baik dapat menurunkan kualitas hidup anak. Gejala yang muncul berulang kali kerap mengganggu aktivitas sehari-hari dan waktu istirahat, sehingga berpotensi menurunkan nafsu makan dan berdampak pada pemenuhan kebutuhan gizi.
Gejala alergi dapat muncul pada saluran pencernaan, kulit, maupun saluran pernapasan dengan tingkat keparahan yang berbeda pada setiap anak. Karena itu, orang tua diminta tidak panik apabila menemukan gejala yang diduga sebagai reaksi alergi.
Pemenuhan nutrisi anak dengan alergi protein susu sapi perlu mendapat perhatian khusus. Salah satunya melalui pemilihan sumber lemak yang sesuai, seperti Medium Chain Triglycerides (MCT) yang lebih mudah dan cepat diserap tubuh sebagai sumber energi.
Selain itu, anak tetap memerlukan asupan protein, karbohidrat, lemak, vitamin, dan mineral dari bahan makanan yang aman. Kebutuhan asam amino esensial, asam lemak omega-3 dan omega-6, serta berbagai zat gizi mikro juga harus terpenuhi untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan.
Untuk membantu mengenali alergi makanan, dr. Laurencia menyarankan orang tua memperkenalkan makanan baru secara bertahap dengan menerapkan 3-Day Wait Rule. Caranya, berikan satu jenis makanan baru selama tiga hari berturut-turut sebelum mengenalkan makanan lainnya.
Ia juga menganjurkan orang tua membuat food diary atau catatan makanan guna memantau jenis makanan yang dikonsumsi anak beserta respons tubuh yang muncul setelahnya.
"Hal yang terpenting adalah melakukan observasi, mencatat makanan yang dikonsumsi anak serta memperhatikan gejala yang muncul setelahnya," ujarnya.
Jika gejala yang muncul mengkhawatirkan setelah anak mengonsumsi makanan tertentu, dr. Laurencia mengimbau orang tua segera berkonsultasi dengan dokter.