YOGYAKARTA — Fenomena "demam sekolah favorit" kembali menghiasi pelaksanaan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) 2026 untuk jenjang SMP di Kota Yogyakarta. Dewan Pendidikan setempat menilai kondisi ini menjadi alarm bahwa program pemerataan mutu antarsekolah belum sepenuhnya berhasil.
Ketua Dewan Pendidikan Kota Yogyakarta, Ahmad Mustaqim, menyebutkan bahwa kerumunan pendaftar di sekolah-sekolah tertentu setiap tahun ajaran baru merupakan indikator paling kasatmata. "Ini bukti bahwa persepsi masyarakat terhadap kualitas sekolah masih timpang. Selama mutu belum merata, istilah sekolah favorit tidak akan pernah hilang," ujarnya dalam keterangan yang diterima, Senin (16/6/2025).
Menurut catatan Dewan Pendidikan, konsentrasi pendaftar di SMPN 1, SMPN 2, dan SMPN 5 Yogyakarta masih sangat tinggi dibandingkan sekolah lainnya di pinggiran kota. Orang tua cenderung memilih sekolah dengan reputasi akademik yang sudah terbangun puluhan tahun, meskipun sistem zonasi sudah diterapkan.
Ahmad menjelaskan, daya tarik sekolah favorit tidak semata-mata karena gedung megah, melainkan karena akumulasi prestasi dan kualitas guru yang tidak merata. "Selama guru-guru terbaik hanya bertumpuk di tiga hingga lima sekolah, maka pemerataan hanya akan menjadi slogan," tegasnya.
Dewan Pendidikan mendorong Pemkot Yogyakarta untuk tidak hanya fokus pada pengetatan aturan zonasi, tetapi juga pada penguatan mutu di sekolah yang selama ini dianggap "non-favorit". Langkah konkret yang disarankan meliputi rotasi guru berprestasi secara berkala dan pemberian insentif bagi tenaga pengajar yang bersedia ditempatkan di sekolah pinggiran.
Fenomena SPMB 2026 ini menjadi pengingat bahwa kebijakan tanpa diikuti peningkatan kualitas infrastruktur dan sumber daya manusia di semua sekolah hanya akan memindahkan titik kemacetan, bukan menyelesaikan masalah. Dewan Pendidikan berharap evaluasi menyeluruh bisa rampung sebelum tahun ajaran baru dimulai.