Okupasi Hotel di Jogja Naik 20 Persen, Pengusaha Malah Keluhkan Keuntungan Turun Gegara Biaya Operasional Melonjak

Penulis: Dedi Supriadi  •  Sabtu, 27 Juni 2026 | 13:50:31 WIB
Okupansi hotel di Jogja meningkat 20 persen sejak pertengahan Juni 2026.

YOGYAKARTA — Industri perhotelan di Daerah Istimewa Yogyakarta tengah mengalami situasi paradoks. Di satu sisi, tingkat keterisian kamar atau okupansi melonjak signifikan. Di sisi lain, keuntungan yang diraup pengusaha justru tergerus.

Fenomena ini diakui langsung oleh Ketua PHRI DIY, Deddy Pranowo. Berdasarkan data yang dihimpun dari anggota, rata-rata okupansi hotel bintang maupun nonbintang di Kota Jogja dan Sleman mencapai 70 persen sejak pertengahan Juni lalu.

"Kalau reservasi, data kita dari 17 Juni sampai dengan 25 Juni itu rata-rata 70 persen. Baik hotel bintang maupun nonbintang anggota kami di DIY. Masih didominasi wilayah tengah kota (Kota Jogja) dan juga Sleman," terang Deddy saat dihubungi, Kamis (25/6/2026).

Biaya Operasional Naik 15-25 Persen

Peningkatan jumlah tamu ini ternyata menjadi pisau bermata dua. Kenaikan okupansi justru berbanding lurus dengan membengkaknya biaya operasional yang harus ditanggung pengelola hotel.

"70 persen itu belum berarti kondisi baik-baik saja. Peningkatan okupansi juga diiringi kenaikan biaya operasional. Bahan baku naik, servis AC naik, sekarang semuanya naik," beber Deddy.

Ia merinci, lonjakan biaya operasional yang harus ditanggung anggota PHRI berkisar antara 15 hingga 25 persen. Kondisi ini diperparah dengan ketidakmampuan pengusaha untuk menyesuaikan tarif kamar.

Daya Beli Lemah, Tarif Kamar Tak Berani Naik

Alih-alih menaikkan harga, para pengusaha hotel memilih untuk menahan tarif kamar di level yang sama. Keputusan ini diambil karena mereka menilai daya beli masyarakat saat ini masih lemah.

"Kami tidak bisa menyesuaikan harga kamar dengan biaya operasional. Mengapa? Karena daya beli masyarakat sekarang turun. Jadi anggota PHRI saat ini hanya sekadar bertahan," kata Deddy.

Kekhawatiran utama para pengusaha adalah jika harga dinaikkan, jumlah tamu justru akan tergerus. "Daripada tidak ada tamu, akhirnya ini hanya cukup untuk bertahan. Dari segi okupansi naik, tapi dari segi revenue kami turun," ungkapnya.

Gangguan Listrik Tambah Beban Pengusaha Hotel

Persoalan lain yang ikut menggerus keuntungan adalah dampak dari gangguan listrik yang terjadi beberapa waktu lalu. Peristiwa itu menyebabkan sejumlah peralatan elektronik di hotel rusak dan membutuhkan biaya perbaikan tambahan.

"Dampaknya menambah biaya operasional. Kita beli solar, Pertadex. Itu kan menambah biaya," jelas Deddy.

Ia menambahkan, setidaknya ada empat hingga lima hotel yang melaporkan kerusakan barang elektronik seperti water heater, televisi, dan komputer. "Itu kan memperbaikinya juga menambah cost," sambungnya.

Untuk menekan pengeluaran, sejumlah hotel mulai menerapkan efisiensi energi. Namun, Deddy memastikan langkah ini tidak akan mengurangi kualitas pelayanan kepada tamu.

"Yang dilakukan misalnya mematikan lampu atau area yang tidak terpakai. Tapi kalau sampai menurunkan mutu layanan atau hospitality, kami tidak berani. Jangan sampai efisiensi malah merusak citra hotel," pungkasnya.

Reporter: Dedi Supriadi
Sumber: detik.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top