YOGYAKARTA — Mereka adalah para ayah yang datang khusus untuk mengambil rapor akhir tahun ajaran anak-anaknya. Pemandangan ini menjadi pemandangan yang tak biasa dan menyimpan cerita tersendiri.
Bagi sebagian besar ayah, ini adalah pengalaman pertama mereka duduk di bangku sekolah anaknya. Raut wajah mereka campur aduk antara bangga, haru, dan yang paling terasa adalah 'kesusu' — bahasa Jawa untuk perasaan terburu-buru atau was-was karena tidak sabar.
“Biasanya yang ambil rapor itu ibunya. Tapi kali ini pihak sekolah meminta ayah yang datang. Rasanya campur aduk, senang bisa lihat langsung kelas anak, tapi juga deg-degan,” ujar salah satu ayah yang ditemui di lokasi.
Kebijakan unik ini sengaja diterapkan oleh pihak MAN 1 Yogyakarta. Tujuannya bukan sekadar teknis pengambilan rapor, melainkan untuk mendekatkan peran ayah dalam proses pendidikan anak.
“Kami ingin para ayah juga merasakan langsung atmosfer belajar anaknya. Tidak hanya ibu yang selalu datang ke sekolah, tapi ayah juga perlu tahu bagaimana kondisi kelas, bagaimana lingkungan belajar anak,” jelas perwakilan pihak madrasah.
Para ayah yang hadir tampak serius menyimak penjelasan wali kelas. Beberapa di antaranya tak kuasa menahan haru saat melihat catatan prestasi atau bahkan coretan tangan anaknya di buku rapor.
“Saya bangga lihat nilai anak saya bagus, tapi juga trenyuh baca catatan gurunya. Ternyata anak saya pendiam di kelas, padahal di rumah cerewet. Ini jadi pelajaran buat saya,” tambah seorang ayah lainnya sambil tersenyum.
Suasana 'kesusu' atau terburu-buru juga mewarnai momen tersebut. Banyak ayah yang mengaku sudah janji dengan anaknya untuk merayakan hasil rapor di rumah, sehingga mereka ingin segera pulang. Namun di sisi lain, mereka juga betah berlama-lama melihat sudut-sudut kelas yang ditempati buah hatinya setiap hari.
Suasana yang hangat namun penuh makna ini menjadi bukti bahwa peran ayah dalam pendidikan tidak bisa dianggap remeh. Sekolah pun berharap momen seperti ini bisa menjadi agenda rutin, bukan hanya saat pengambilan rapor.