DI YOGYAKARTA — Pernyataan itu disampaikan Prabowo di hadapan para kiai dan pengurus NU di IAI Syaichona Mohammad Cholil, Kabupaten Bangkalan. Ia mengungkapkan rasa nyaman dan aman saat berada di tengah warga nahdliyin. "Masalahnya memang saya kenal keluarga besar Nahdlatul Ulama dari sejak kecil karena dulu saya tetangganya keluarga Gus Dur di Jakarta. Dan eyang saya, eyang putri saya, memang dari NU," kata Prabowo dalam sambutannya.
Presiden menyebut hubungannya dengan NU sudah terbangun secara turun-temurun. Selain faktor kekerabatan, ia juga mengamati ciri khas organisasi keagamaan ini yang tidak bisa dilepaskan dari semangat kebangsaan. Menurut Prabowo, lagu-lagu tradisi NU sudah mengandung nilai cinta Tanah Air bahkan sebelum Indonesia merdeka.
"Sampai-sampai lagunya NU yang ditulis atau dibuat sebelum Indonesia merdeka tapi sudah mengandung nilai-nilai cinta Tanah Air yang luar biasa," ujarnya.
Dalam kesempatan itu, Prabowo melontarkan kelakar soal lagu wajib 'Ya Lal Wathon' yang selalu dinyanyikan di setiap acara NU. Ia membandingkan gerakan mengepalkan tangan saat menyanyikan lagu tersebut dengan pose prajurit TNI. "Bahkan nyanyinya itu tangannya pun harus kepalan, kepalan. Ini luar biasa ini, ini belum ada Kopassus, NU sudah lebih dari Kopassus. Sekarang apa itu TNI, kan ada itu kalau foto (pose) salam komando, NU sudah dulu, sebelum merdeka sudah salam komando itu," kata Prabowo disambut hadirin.
Presiden hadir didampingi sejumlah menteri Kabinet Merah Putih. Tampak mendampingi antara lain Ketua MPR Ahmad Muzani, Menteri Koordinator Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), Menteri Koordinator Pangan Zulkifli Hasan, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia, Menteri Agama Nasaruddin Umar, Menteri ATR/BPN Nusron Wahid, Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya, dan Ketua Umum Dewan Pembina PP Muslimat NU Khofifah Indar Parawansa.
Kehadiran para pejabat tinggi negara dalam forum internal NU ini menunjukkan sinyal kuat dukungan pemerintah terhadap organisasi massa Islam terbesar di Indonesia. Acara penutupan Munas Alim Ulama dan Konbes NU ini menjadi momentum bagi Prabowo untuk menegaskan kembali kedekatannya dengan basis massa tradisional, yang selama ini dikenal sebagai kekuatan politik yang signifikan.