YOGYAKARTA — Data dari Stasiun Cuaca Pangkalan Esperanza, Argentina, yang berada di Semenanjung Antartika, mencatat suhu puncak pada Sabtu (6/6/2026) lalu. Rekor ini melampaui catatan suhu musim dingin tertinggi sebelumnya yang terjadi pada 1998.
Para ilmuwan menyebut kondisi ini tidak normal. Hembusan angin hangat dari arah utara menjadi pemicu utama yang mendorong suhu jauh di atas rata-rata di sejumlah titik, termasuk Pulau King George dan kawasan Gletser Collins.
Di Pulau King George, suhu mencapai 4,6 derajat Celsius pada hari yang sama. Para peneliti melaporkan munculnya area tanah gundul setelah lapisan salju dan es mencair di wilayah yang seharusnya masih tertutup tebal selama musim dingin.
Fenomena serupa juga terjadi di Gletser Collins. Curah hujan yang turun di kawasan tersebut justru mempercepat pencairan lapisan es, bukannya menambah ketebalan es seperti yang lazim terjadi pada musim dingin di Antartika.
Para peneliti menilai pemanasan yang terus terjadi di Antartika membawa risiko besar. Dalam skenario emisi gas rumah kaca tertinggi, luas es laut di Semenanjung Antartika diperkirakan dapat berkurang hingga 20 persen.
Penyusutan ini tidak hanya mengancam ekosistem lokal seperti populasi krill, paus, dan penguin yang bergantung pada es laut. Dampak jangka panjangnya juga berpotensi meningkatkan permukaan air laut secara global.
Bagi Indonesia yang merupakan negara kepulauan, kenaikan permukaan air laut menjadi ancaman nyata bagi wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil.
Para ilmuwan mengingatkan bahwa masa depan Antartika sangat bergantung pada langkah global dalam menekan emisi gas rumah kaca. Pengurangan emisi dinilai menjadi kunci utama untuk mencegah dampak yang lebih besar terhadap lingkungan, ekosistem, dan iklim dunia.
Fenomena suhu ekstrem di Antartika ini menjadi pengingat bahwa perubahan iklim tidak hanya terjadi di kutub, melainkan memiliki efek domino yang bisa dirasakan oleh negara-negara tropis seperti Indonesia.