DI YOGYAKARTA — Dony Oskaria secara langsung memimpin rapat yang dihadiri oleh jajaran direksi bank BUMN, pekan lalu. Dalam pertemuan tertutup itu, ia memaparkan arah baru pembiayaan yang tidak hanya mengejar keuntungan semata, namun juga harus berdampak langsung pada perekonomian nasional.
Setidaknya ada empat sektor utama yang ditekankan oleh BP BUMN kepada para bankir pelat merah. Pertama, industri manufaktur yang dinilai sebagai tulang punggung ekonomi dan penyerap tenaga kerja terbesar. Kedua, program hilirisasi SDA yang selama ini digaungkan pemerintah untuk meningkatkan nilai tambah komoditas dalam negeri.
Ketiga, pembangunan infrastruktur yang membutuhkan suntikan modal jangka panjang. Dan keempat, pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang menjadi bantalan ekonomi saat krisis. Arahan ini menjadi semacam peta jalan bagi bank-bank seperti BRI, Mandiri, BNI, dan BTN dalam menentukan portofolio kredit mereka ke depan.
Dengan adanya arahan ini, pelaku usaha di sektor manufaktur dan UMKM diprediksi akan lebih mudah mengakses pendanaan. Pasalnya, perbankan negara diminta untuk tidak terlalu risk-averse atau enggan menyalurkan kredit ke sektor riil. Arahan BP BUMN ini juga menjadi sinyal agar bank Himbara lebih agresif membiayai proyek-proyek hilirisasi, terutama yang berkaitan dengan pengolahan mineral dan energi.
“Kami ingin memastikan seluruh instrumen pembiayaan perbankan negara selaras dengan agenda strategis pemerintah, khususnya dalam mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan,” ujar Dony Oskaria dalam pernyataan resmi yang dikutip dari Republika.co.id.
Ke depan, BP BUMN akan terus memonitor realisasi penyaluran kredit dari masing-masing bank Himbara. Fokusnya bukan hanya pada jumlah kredit yang dikucurkan, tetapi juga pada sektor mana uang tersebut mengalir. Harapannya, setiap rupiah yang disalurkan perbankan negara bisa memberikan multiplier effect yang nyata bagi perekonomian.
Langkah ini sekaligus menjawab kekhawatiran bahwa perbankan terlalu fokus pada instrumen keuangan yang aman, seperti Surat Berharga Negara (SBN), dan justru melupakan tugas utamanya sebagai intermediasi sektor riil. Kini, dengan arahan baru dari BP BUMN, bank Himbara diharapkan bisa lebih berani mengambil peran sebagai motor penggerak ekonomi nasional.