YOGYAKARTA — Gelombang kontribusi intelektual dari peneliti perempuan mendominasi International Conference on ‘Aisyiyah Studies 2026 (ICAS 2026) di Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta. Dari total 115 makalah yang dipresentasikan, 81 persen di antaranya merupakan karya peneliti perempuan.
Konferensi yang digelar di Gedung Siti Moendjijah, Kamis (11/6) ini merupakan hasil kerja sama Lembaga Penelitian dan Pengembangan ‘Aisyiyah (LPPA) PP ‘Aisyiyah dengan The ‘Aisyiyah Center UNISA Yogyakarta. Acara berlangsung secara hybrid dan dihadiri sekitar 80 peserta dari berbagai daerah di Indonesia, serta peserta dari Inggris, Korea Selatan, Belanda, Jepang, dan Zimbabwe.
Ketua Panitia ICAS 2026, Alimatul Qibtiyah, menyampaikan bahwa panitia menerima 135 abstrak, dengan 115 di antaranya berkembang menjadi makalah lengkap.
"Sebagai ketua penyelenggara saya merasa terhormat bahwa respons ICAS 2026 ini luar biasa, gelombang kontribusi intelektual yang luar biasa dari peneliti, akademisi, mahasiswa di seluruh dunia, masuk 135 abstrak, yang sudah full paper 115 dengan 81 persen adalah perempuan dan sisanya adalah laki-laki," ujar Alimatul.
Kontribusi terbesar berasal dari Pulau Jawa dengan 40 makalah, disusul Sumatera 20 makalah, Sulawesi 18 makalah, Kalimantan 12 makalah, serta Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur sebanyak tujuh makalah. Selain itu, terdapat pula peserta dari Papua dan sejumlah negara lain.
Makalah yang dipresentasikan dalam konferensi ini membahas beragam isu strategis. Mulai dari ketahanan pangan, perubahan iklim, hingga perlindungan perempuan dan anak. Semua tema diangkat dalam kerangka peran perempuan Muslim membangun masa depan yang berkelanjutan.
Sekretaris Umum PP ‘Aisyiyah, Tri Hastuti Nurrohimah, menegaskan bahwa konferensi ini bukan sekadar forum akademik. Lebih dari itu, ICAS 2026 menjadi ruang membangun solidaritas lintas negara dan lintas komunitas.
"Musuh kita itu adalah kemiskinan. Musuh kita adalah krisis kemanusiaan, krisis kita adalah konflik dan perang," tegasnya.
Rektor UNISA Yogyakarta, Warsiti, menyampaikan bahwa penyelenggaraan ICAS 2026 merupakan bagian dari ikhtiar intelektual menuju Muktamar ‘Aisyiyah ke-49 di Sumatera Utara. Menurutnya, kepemimpinan perempuan memiliki peran penting dalam menciptakan peradaban yang berkelanjutan.
"Kepemimpinan perempuan tentu memiliki andil besar dan juga tanggung jawab yang besar di dalam bagaimana ikut membangun solidaritas, memperkuat ketahanan masyarakat dan memberikan solusi yang inklusif," ujar Warsiti.
Ia juga menegaskan hubungan historis yang erat antara UNISA Yogyakarta dengan gerakan ‘Aisyiyah. "Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta lahir dari gerakan perempuan, tumbuh bersama gerakan perempuan, dan akan terus berkontribusi bagi kemajuan perempuan serta memberikan manfaat yang luas bagi masyarakat dan kemanusiaan," katanya.
Melalui ICAS 2026, para peserta diharapkan tidak hanya menghasilkan publikasi ilmiah dan rekomendasi kebijakan, tetapi juga memperkuat kolaborasi lintas disiplin dan lintas negara dalam kajian perempuan, Islam, kepemimpinan perempuan Muslim, serta transformasi sosial yang berkelanjutan.