Ritual yang sudah turun-temurun ini bukan sekadar prosesi seremonial, melainkan bentuk doa dan perenungan kolektif masyarakat. Kominfo DIY, melalui unggahan di akun resminya, menyebut bahwa suasana hening tanpa percakapan selama prosesi Mubeng Beteng menjadi simbol penghormatan dan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Rangkaian Prosesi: Wayang Kulit hingga Jenang Manggul
Acara akan dimulai pada pukul 21.00 WIB dengan pertunjukan wayang kulit berjudul "Ringgit Wacucal (Abiyasa Lahir)" yang digelar semalam suntuk. Pertunjukan ini menjadi pembuka sebelum rangkaian inti tradisi dimulai.
Setelah tengah malam, perwakilan Pura Pakualaman dan masyarakat akan melakukan Lampah Ratri Mubeng Beteng. Mereka berjalan kaki mengelilingi area Kadipaten Pakualaman dalam keheningan total. Tidak ada percakapan, hanya langkah kaki dan doa yang dipanjatkan dalam diam.
Makna di Balik Keheningan dan Jenang Manggul
Keheningan dalam prosesi Mubeng Beteng dimaknai sebagai ruang kontemplasi. "Suasana hening tanpa percakapan disebut sebagai bentuk doa, perenungan, dan ungkapan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa," tulis Kominfo DIY dalam keterangannya.
Setelah seluruh rangkaian selesai, peserta akan menikmati jenang manggul bersama. Hidangan tradisional ini melambangkan semangat merangkul tahun yang baru melalui rasa syukur, doa, dan kebersamaan. Jenang manggul menjadi penutup yang memperkuat ikatan sosial antarwarga yang hadir.
Tradisi yang Tetap Relevan di Tengah Zaman
"Tak hanya menjaga tradisi, Lampah Ratri juga mengingatkan bahwa kebersamaan, doa, dan penghormatan terhadap warisan budaya tetap relevan di tengah kehidupan yang terus berkembang," tulis Kominfo DIY. Pernyataan ini menegaskan bahwa ritual kuno ini bukan sekadar atraksi wisata, melainkan cerminan identitas budaya yang terus dirawat.
Masyarakat umum dipersilakan mengikuti prosesi Mubeng Beteng. Tidak ada persyaratan khusus selain menjaga kekhidmatan dan mengikuti arahan panitia di lapangan.