Menteri Ekonomi Kreatif: Yogyakarta Jadi Panutan Pengembangan Ekraf Nasional Berkat Modal Budaya dan Inovasi

Penulis: Cecep Sudrajat  •  Senin, 15 Juni 2026 | 20:07:01 WIB
Menteri Ekonomi Kreatif menilai Yogyakarta sebagai panutan pengembangan ekonomi kreatif nasional berkat modal budaya dan inovasi.

YOGYAKARTA — Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya menyebut Daerah Istimewa Yogyakarta memiliki modal besar untuk menjadi pusat pengembangan ekonomi kreatif Indonesia. Modal itu adalah budaya lokal yang kuat dan mampu bertransformasi menjadi produk ekonomi bernilai tinggi.

"Bagaimana daerah dengan budayanya yang kuat itu sebagai hulunya, turunannya dengan sentuhan inovasi, kreativitas, dan teknologi di situlah ekonomi kreatif hadir," kata Riefky di Yogyakarta, Sabtu.

Modal Budaya Jadi Hulu Ekonomi Kreatif

Menurut Riefky, keberadaan seniman, budayawan, dan berbagai event kreatif yang tumbuh secara organik di Yogyakarta menjadi fondasi utama. Pemerintah pusat menilai ekosistem ini tidak hanya berkembang, tetapi sudah mampu menghilirisasi kreativitas menjadi nilai tambah ekonomi.

"Selama ini Ekraf di Yogyakarta luar biasa perkembangannya, tak hanya berkembang tapi menghilirisasi menjadi nilai ekonomi yang juga telah dilakukan," tegasnya.

Tugas Kementerian: Menaikkan Kelas Pelaku Lokal ke Pasar Global

Kementerian Ekraf saat ini fokus mendorong pelaku usaha lokal Yogyakarta agar siap naik kelas ke skala nasional hingga internasional. Langkah ini diyakini mampu meningkatkan investasi, ekspor, dan menyerap tenaga kerja berkualitas.

"Tugas Kementerian Ekraf adalah bagaimana sektor ekonomi kreatif itu meningkat investasinya," ujar Riefky.

Pemerintah pusat akan berkolaborasi dengan pemerintah daerah melalui proses kurasi untuk mengangkat jenama lokal Yogyakarta ke level yang lebih tinggi.

Walikota: Modal Manusia Jadi Andalan Tanpa Sumber Daya Alam

Walikota Yogyakarta Hasto Wardoyo mengakui bahwa wilayahnya tidak memiliki sumber daya alam melimpah. Dengan jumlah penduduk tetap sekitar setengah juta jiwa, Kota Yogyakarta justru didatangi hingga satu juta jiwa pendatang heterogen setiap harinya.

"Kota Yogyakarta tidak punya sumber daya alam, tapi punya sumber daya manusia, sehingga kami harus mengandalkan ekonomi kreatif untuk bisa meningkatkan pendapatan di Kota Yogyakarta," kata Hasto.

Di hadapan Menteri Ekraf, Hasto menyoroti pentingnya pengembangan sektor kreatif yang memberdayakan perempuan dan lanjut usia (lansia). Menurutnya, banyak kegiatan kreatif yang bisa dikerjakan warga untuk memperkuat perekonomian daerah.

Event Kreatif Jadi Daya Tarik Wisatawan Asing

Hasto menyebut sejumlah kegiatan kreatif yang sudah berjalan, seperti Custom Fest, Wayang Jogja Night Carnival (WJNC), dan berbagai event lain. Kegiatan ini dinilai mampu mendongkrak kunjungan wisatawan asing ke Kota Yogyakarta.

"Melalui beberapa kegiatan itu, agar kunjungan wisata, khususnya wisatawan asing, bisa meningkat di Kota Yogyakarta," jelasnya.

Menurut Hasto, jumlah kunjungan wisatawan mancanegara menjadi salah satu indikator keberhasilan pengembangan ekonomi kreatif di daerah tersebut.

Reporter: Cecep Sudrajat
Sumber: jogja.antaranews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top