DI YOGYAKARTA — Ida Ayu Putu Indra Suandewi menangis terharu ketika Presiden Prabowo mendekat dan menenangkannya. Anaknya, Ni Kadek Duwik Lestari, adalah salah satu pelajar di SRMP 17 Tabanan yang didirikan pemerintah untuk anak-anak dari keluarga prasejahtera.
"Terima kasih bapak presiden anak bisa saya sekolah di sini, mengucapkan terima kasih," kata Ida Ayu di hadapan Prabowo, seperti dikutip dari keterangan resmi.
Ni Kadek Duwik Lestari mengaku sang ayah bekerja sebagai kuli bangunan dengan penghasilan tak menentu. Saat ditanya soal cita-cita, gadis itu menjawab ingin menjadi guru penari. Prabowo pun memberikan semangat langsung.
"Cita-cita jadi guru menari," ujar Kadek.
"Bagus sekali," jawab Prabowo.
Kisah serupa datang dari calon siswi lain, Ni Kadek Aryani. Ia sudah dua tahun putus sekolah setelah lulus SD karena masalah ekonomi. Ayahnya bekerja sebagai petani dengan penghasilan Rp 100.000 per hari, bahkan sering di bawah angka itu. Aryani tinggal di rumah nenek.
Aryani mengaku senang saat petugas pengawas melakukan pendataan untuk Sekolah Rakyat. Ia akhirnya bisa kembali bersekolah dan belajar setelah lama menanti.
"Terima kasih sekali kepada Pak Presiden," pungkas Aryani.
Kunjungan Prabowo ke SRMP 17 Tabanan menjadi momen emosional yang menyoroti dampak langsung kebijakan pendidikan bagi warga miskin. Sekolah Rakyat dirancang untuk menjangkau anak-anak yang tidak mampu dan putus sekolah, dengan kurikulum yang disesuaikan dan biaya gratis.
Momen tangis haru itu viral di media sosial dan menjadi perbincangan hangat. Publik menilai program ini sebagai solusi konkret atas tingginya angka putus sekolah di daerah terpencil. Pemerintah hingga saat ini terus memperluas pendirian Sekolah Rakyat di berbagai provinsi, dengan target menjangkau 10.000 siswa pada tahun ajaran mendatang.
Belum ada pernyataan resmi dari Kementerian Pendidikan mengenai jadwal pendaftaran gelombang berikutnya. Namun, kunjungan presiden langsung ke lokasi menunjukkan komitmen tinggi terhadap program ini.