DI YOGYAKARTA — Sutradara Umay Shahab merilis film horor-kriminal-aksi berjudul Memburu Pemangsa yang mengangkat isu kekerasan seksual terhadap anak di Indonesia. Film yang dibintangi Prilly Latuconsina dan Laura Basuki ini lahir dari amarah Umay terhadap para pelaku, yang ia nilai lebih menyeramkan daripada iblis. Seluruh aktor anak dalam produksi ini mendapat pendampingan psikolog dan Komnas Perempuan.
Umay Shahab mengungkapkan bahwa keputusan mengangkat isu kekerasan seksual anak ke layar lebar berangkat dari data yang ia dan timnya kumpulkan. Angka kasus tersebut disebut terus bertambah setiap tahun, dan kondisi itulah yang mendorongnya memilih medium film bioskop sebagai sarana bicara.
Dalam jumpa pers film Memburu Pemangsa di Jakarta, Senin (21/9/2026), sutradara berusia 25 tahun itu menegaskan bahwa isu ini bukan sekadar bahan cerita. Ia ingin penonton memahami skala persoalannya, bukan hanya menikmati ketegangan genrenya.
Umay menyebut pihaknya menampilkan data kasus kekerasan terhadap anak dan kekerasan seksual terhadap anak sepanjang 2025. Jumlahnya ribuan, dan trennya naik dari tahun ke tahun.
"Apa yang lebih penting bagi saya adalah bagaimana isu kekerasan terhadap anak ini bisa disampaikan. Berdasarkan data yang kami tampilkan, ada ribuan kasus kekerasan terhadap anak dan kekerasan seksual terhadap anak pada 2025, dan angkanya terus bertambah setiap tahun," ujarnya.
Mantan aktor cilik ini menyatakan ada amarah besar dalam dirinya terhadap para pemangsa anak. Amarah itu, katanya, yang ingin disalurkan lewat Memburu Pemangsa.
"Ada amarah yang begitu besar dalam diri saya terhadap para pemangsa anak. Amarah itu yang ingin saya sampaikan melalui film Memburu Pemangsa. Saya merasa isu ini perlu diangkat melalui medium film bioskop karena penting untuk dibicarakan, terutama oleh kami yang menjadi bagian dari generasi muda," ungkap Umay.
Pilihan genre horor bukan tanpa alasan. Umay memandang para pelaku pemangsa anak memiliki sisi yang jauh lebih mengerikan dibanding sosok iblis dalam bayangan banyak orang.
"Bagi saya pribadi, pelaku pemangsa anak jauh lebih iblis daripada iblis itu sendiri. Mereka jauh lebih menyeramkan. Karena itu, kami merasa isu ini menarik untuk dibahas melalui sudut pandang genre horor," tuturnya.
Pandangan itu yang kemudian menghubungkan antara tema berat dan kemasan horor-kriminal-aksi dalam satu film. Umay ingin penonton merasakan ancaman nyata, bukan sekadar teror fiktif.
Karena melibatkan banyak aktor anak, Umay memastikan ada prosedur pendampingan sejak awal. Orang tua diberi penjelasan lebih dulu, baru kemudian anak-anaknya, dengan batasan yang dirumuskan oleh psikolog.
"Kita pastinya memberitahukan kepada orang tuanya dulu, lalu memberitahukan kepada anak-anaknya juga dengan batasan-batasan yang tertentu pastinya yang disampaikan oleh psikolog yang didelegasikan oleh Komnas," kata Umay.
Pendampingan itu disebut berlaku di setiap tahap produksi. Untuk hal-hal yang sifatnya abu-abu, tim tidak memutuskan sendiri.
"Untuk semua hal-hal yang sifatnya agak abu-abu, kita enggak mau memutuskan sendiri. Jadi, semuanya sudah di-screening dari tahap skenario sampai tahap post produksi," tambahnya.
Tantangan berikutnya adalah memastikan unsur horor tidak menenggelamkan pesan yang ingin disampaikan. Umay mengaku banyak berdiskusi dengan para pemain dan penulis film untuk mencari tone yang pas.
"Saya banyak berdiskusi dengan teman-teman dari cast dan penulis film untuk mencari keseimbangan tone, supaya unsur horornya tidak mengalahkan isu yang ingin disampaikan, begitu juga sebaliknya. Kami juga melakukan FGD sejak tahap skenario dan memberikan naskah kepada Komnas serta jurnalis senior untuk dibaca. Jadi, kami berusaha memastikan isu dan elemen dalam film ini dibahas dengan tepat," jelasnya.
Langkah itu membuat naskah Memburu Pemangsa melewati pembacaan dari pihak di luar tim produksi, termasuk lembaga yang bergerak di isu kekerasan terhadap perempuan dan anak. Bagi Umay, keterlibatan itu bagian dari tanggung jawab saat mengangkat persoalan sensitif.
Memburu Pemangsa menandai kembalinya Umay Shahab ke kursi sutradara setelah sebelumnya lebih dikenal sebagai aktor cilik. Film ini juga menempatkan Prilly Latuconsina dan Laura Basuki sebagai dua nama utama di jajaran pemain.
Di pasar film Indonesia, kombinasi horor dan isu sosial bukan hal baru, tetapi jarang yang secara terbuka menyebut data kasus dan melibatkan lembaga advokasi dalam proses kreatifnya. Pendekatan itu yang coba ditawarkan Umay lewat Memburu Pemangsa.
Film Memburu Pem?
ngsa mengangkat isu apa? A: Film ini mengangkat isu kekerasan seksual terhadap anak di Indonesia.