AS Lancarkan Serangan Udara Baru ke Iran, Target Garda Revolusi dan Pelayaran di Selat Hormuz

Penulis: Fiqri Ramadhan  •  Minggu, 19 Juli 2026 | 23:18:01 WIB
Komando Pusat AS mengumumkan dimulainya serangan udara baru terhadap Iran pada Minggu waktu setempat.

WASHINGTON — Komando Pusat AS (CENTCOM) mengumumkan dimulainya serangan udara baru terhadap Iran pada Minggu (waktu setempat) atas arahan Panglima Tertinggi. Serangan ini menyasar Garda Revolusi Islam dan bertujuan melemahkan kemampuan Iran mengancam pelayaran komersial di Selat Hormuz.

“Hari ini pukul 6 sore ET, pasukan AS mulai melancarkan serangan udara baru terhadap Iran atas arahan Panglima Tertinggi,” tulis CENTCOM di akun X resmi mereka. Pernyataan itu menambahkan bahwa serangan dirancang untuk “dengan cepat menghukum pasukan Garda Revolusi Islam yang melancarkan serangan terhadap anggota militer Amerika di Yordania tadi malam.”

Gencatan Senjata Dinyatakan Tak Berlaku Lagi

Teheran dan Washington sebelumnya menandatangani memorandum pada 18 Juni lalu dengan tujuan mengakhiri konflik yang dimulai sejak 28 Februari. Namun, militer AS telah melakukan beberapa serangan terhadap Iran sejak 8 Juli.

Pemerintah Iran membalas aksi AS dengan menyerang pangkalan-pangkalan militer Amerika di sejumlah negara Timur Tengah. Teheran menuding Washington melanggar perjanjian gencatan senjata yang telah disepakati.

Pada 9 Juli, Presiden AS Donald Trump secara resmi menyatakan bahwa gencatan senjata tersebut tidak lagi berlaku. Pernyataan itu menjadi pemicu eskalasi terbaru antara kedua negara.

Selat Hormuz Jadi Titik Rawan Baru

Selat Hormuz menjadi pusat ketegangan dalam konflik ini. CENTCOM mengklaim serangan balasan AS merupakan respons atas tindakan Iran terhadap kapal-kapal dagang yang melintasi selat strategis tersebut.

Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran vital yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman. Sekitar seperlima konsumsi minyak dunia melewati selat ini setiap hari.

Belum ada pernyataan resmi dari Pemerintah Iran mengenai serangan udara terbaru AS. Situasi di kawasan Timur Tengah diperkirakan akan semakin memanas menyusul operasi militer ini.

Reporter: Fiqri Ramadhan
Sumber: jogja.antaranews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top