KLATEN — Bayer Indonesia memperkenalkan Camalus, insektisida sistemik ganda yang diklaim sebagai produk pertama di Indonesia yang mampu mengatasi dua jenis serangan hama sekaligus: hama pengunyah seperti ulat daun kubis (Plutella xylostella) dan hama penusuk-pengisap seperti kutu kebul, kutu daun, dan thrips. Produk ini menyasar petani hortikultura yang selama ini harus mencampur dua jenis insektisida berbeda dalam satu siklus tanam.
Hama pemakan daun dan hama penusuk-pengisap masih menjadi momok utama petani hortikultura di Indonesia. Ulat daun kubis, misalnya, bisa menyebabkan kehilangan hasil panen hingga 50–100 persen jika tidak dikendalikan secara tepat. Camalus hadir dengan mekanisme kerja ganda (dual mode of action) yang menggabungkan bahan aktif Tetraniliprole dan Spirotetramat dalam satu formulasi.
“Tantangan yang dihadapi petani hortikultura semakin kompleks karena hama pengunyah dan pengisap umumnya menyerang secara bersamaan. Untuk mengatasinya, petani biasanya mencampur dua jenis insektisida berbeda,” ujar Kukuh Ambar Waluyo, Head of Field Solutions Bayer South East Asia & Pakistan, yang membawahi Bayer JUARA, pusat riset dan pengembangan pertanian Bayer terbesar kedua di Asia Tenggara.
Camalus bekerja secara sistemik, bergerak dua arah di dalam jaringan tanaman — akropetal dan basipetal — sehingga melindungi daun bagian dalam dan luar, batang, buah, hingga tunas baru. Produk ini juga dilengkapi sistem perekat yang membuat perlindungan lebih tahan lama meski terkena hujan.
Menurut Bayer, insektisida ini kompatibel dengan prinsip Pengendalian Hama Terpadu (PHT) karena efektif pada dosis rendah, selektif terhadap hama sasaran, serta meminimalkan dampak terhadap predator dan parasitoid alami. Proses riset dan pengembangan Camalus berlangsung sekitar sepuluh tahun, mulai dari penemuan molekul di laboratorium, uji efikasi, studi keamanan, hingga registrasi resmi.
Peluncuran Camalus bertepatan dengan momentum pertumbuhan subsektor hortikultura yang menjadi prioritas nasional. Data menunjukkan pertumbuhan hortikultura mencapai 3,85 persen pada triwulan IV 2025 (year on year). Produksi cabai besar pada 2025 mencapai 1,72 juta ton, meningkat 16,73 persen atau 245,70 ribu ton dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara itu, konsumsi cabai besar oleh rumah tangga mencapai 641,93 ribu ton, naik 6,91 persen.
Pemerintah juga mencatat peningkatan ekspor hortikultura sebesar 49 persen pada semester I 2025. Provinsi dengan produksi cabai besar terbesar adalah Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Sumatera Utara. Sumatera Utara sendiri menyumbang 12,53 persen produksi nasional dengan total 214,87 ribu ton dari luas panen 16,37 ribu hektare.
Kukuh menambahkan bahwa setiap solusi yang dihadirkan Bayer, termasuk Camalus, telah melalui proses riset dan adaptasi yang matang terhadap kondisi agroekologi Indonesia, termasuk tekanan hama spesifik yang dihadapi petani hortikultura di tanah air. “Camalus menjawab kesenjangan kebutuhan yang selama ini belum terpenuhi dalam budidaya tanaman hortikultura,” katanya.
Camalus efektif melindungi tanaman dari hama pengunyah seperti ulat bor buah, ulat grayak, ulat krop kubis, pengorok daun, dan lalat buah, serta hama penusuk-pengisap seperti kutu kebul, thrips, dan kutu daun. Produk ini sudah tersedia untuk petani hortikultura di Indonesia.