DI YOGYAKARTA — Google Fitbit Edge adalah fitness tracker hybrid OLED pertama yang baterainya bisa diganti sendiri, diklaim bertahan tujuh hari dalam sekali cas. Dibanderol USD 179,99 (sekitar Rp 3 juta) dan mulai dijual 27 Oktober 2026, perangkat ini menyasar pengguna yang bosan tracker mati total setelah dua tahun. Masalahnya, Google mencabut NFC dan mikrofon yang justru jadi andalan di Fitbit Charge 6.
Google memperkenalkan Fitbit Edge pada Senin (12/10/2026) sebagai pengisi celah antara Fitbit Air tanpa layar dan Pixel Watch 5 yang berfungsi penuh sebagai smartwatch. Posisi ini menarik karena pengguna yang cuma butuh pelacak kebugaran sering terjebak antara tracker murah tanpa layar atau smartwatch mahal dengan baterai boros.
Klaim baterai tujuh hari dan arsitektur modular jadi dua hal yang paling banyak dibicarakan. Keduanya menjawab keluhan lama pengguna wearable: baterai menurun setelah setahun dan perangkat harus dipensiunkan karena selnya tidak bisa diganti.
Layar Hybrid OLED 46% Lebih Luas dari Charge 6
Fitbit Edge memakai panel Hybrid OLED dengan area tampilan 46% lebih besar dibanding Fitbit Charge 6. Google mengklaim layarnya tetap terbaca jelas di bawah sinar matahari langsung, hal yang sering jadi titik lemah tracker berlayar kecil.
Bodinya dibalut aluminium daur ulang dengan ketebalan 11,5 mm. Ada tombol fisik di sisi kanan untuk navigasi cepat saat berolahraga, solusi praktis ketika tangan berkeringat dan layar sentuh jadi rewel.
Perangkat ini tersedia dalam empat warna: Obsidian, Fog, Olive, dan Canyon. Google juga menyediakan pilihan tali sport, magnetik, dan metal untuk pengguna yang ingin tampilan lebih formal.
Baterai 7 Hari, 2 Hari Kalau Always-On Display Nyala
Daya tahan jadi nilai jual utama. Google mengklaim Fitbit Edge bertahan hingga tujuh hari dalam sekali pengisian dengan pengaturan tertentu. Angka itu turun drastis jadi sekitar dua hari jika always-on display diaktifkan.
Pengisian dayanya tergolong cepat. Lima menit cas diklaim cukup untuk pemakaian sekitar satu hari, sedangkan pengisian penuh butuh sekitar 90 menit. Untuk pengguna yang sering lupa cas, fitur quick charge ini lebih berguna daripada angka baterai mentah.
Yang lebih menarik, Fitbit Edge jadi fitness tracker pertama Google yang dirancang bisa diperbaiki. Baterainya dapat diganti lewat arsitektur modular. Sayangnya, Google belum merinci prosedur penggantian maupun biaya servisnya, dan ini pertanyaan besar yang belum terjawab.
GPS 40% Lebih Akurat, 100 Aktivitas Terdeteksi Otomatis
Fitbit Edge membawa GPS terintegrasi dengan akurasi diklaim 40% lebih baik dari generasi sebelumnya. Peningkatan itu datang dari chipset GPS baru dan rancangan antena pada bodi aluminium.
Perangkat ini mendukung lebih dari 50 mode olahraga yang bisa dipilih manual. Sistem pelacakan otomatisnya mampu mengenali hingga 100 jenis aktivitas, berguna untuk pengguna yang malas menekan tombol sebelum lari pagi.
Untuk pemantauan kesehatan, ada sensor detak jantung optik, ECG untuk memeriksa irama jantung, sensor suhu kulit, dan pemantauan SpO2. Google juga menyematkan Health Coach berbasis AI untuk panduan aktivitas yang lebih personal.
Fitur pemantauan tren tekanan darah dan resistensi insulin tersedia lewat Google Health. Perlu dicatat, keduanya bukan pengukuran klinis langsung dan tidak dimaksudkan menggantikan pemeriksaan medis.
Ketahanan airnya 5 ATM dengan sertifikasi IP68, cukup untuk berenang dan mandi tanpa perlu dilepas.
Kelemahan: NFC dan Mikrofon Dicabut dari Charge 6
Di balik semua peningkatan, Fitbit Edge kehilangan sejumlah fitur yang ada di Fitbit Charge 6. Yang paling mencolok adalah absennya NFC untuk pembayaran nirsentuh. Pengguna tidak bisa lagi membayar langsung dari pergelangan tangan, fitur yang di pasar Indonesia mungkin belum krusial, tapi di negara dengan ekosistem contactless matang ini terasa mundur satu langkah.
Mikrofon dan speaker juga tidak disertakan. Pengguna masih bisa melihat notifikasi panggilan masuk, tetapi tidak bisa menerima atau menjawab telepon langsung dari perangkat. Untuk tracker di harga Rp 3 jutaan, dua pemangkasan ini cukup mengganggu.
Harga dan Ketersediaan di Indonesia
Google Fitbit Edge dibanderol USD 179,99 atau sekitar Rp 3 jutaan, belum termasuk pajak dan biaya lainnya. Ada juga Fitbit Edge Stephen Curry Special Edition seharga USD 219,99.
Preorder dibuka 12 Oktober 2026, penjualan perdana dijadwalkan 27 Oktober. Setiap pembelian mendapat akses Google Health Premium gratis selama tiga bulan.
Belum ada informasi resmi soal ketersediaan di Indonesia. Pengguna lokal biasanya harus menunggu distribusi resmi atau membeli lewat jalur impor dengan tambahan biaya dan tanpa garansi resmi.
Dibanding kompetitor di kelas yang sama, Fitbit Edge bersaing dengan tracker yang menawarkan NFC dan pengeras suara bawaan. Kalau prioritasmu baterai tahan lama dan perangkat yang bisa diperbaiki, Fitbit Edge masuk akal. Tapi kalau pembayaran nirsentuh dan panggilan dari pergelangan tangan penting, Charge 6 yang lebih murah masih jadi pilihan lebih lengkap.