YOGYAKARTA — Kepala Taman Budaya Yogyakarta Purwiati menyatakan pameran Nandur Srawung 2026 tidak sekadar ajang pamer karya, melainkan upaya kuratorial membaca arah perkembangan seni rupa kontemporer nasional. Menurut dia, tim kurator memilih tema Akademi sebagai platform yang merujuk pada seluruh ruang produksi pengetahuan.
Fokusnya pada pengembangan praktik, pengetahuan, dan jejaring bagi seniman muda Indonesia. "Lewat pameran dan program publik, Nandur Srawung 2026 menelusuri beragam gagasan artistik, metode kerja, praktik berkesenian, dan keterlibatan publik seni," kata Purwiati dalam konferensi pers di Yogyakarta, Rabu.
100 Seniman Lolos Seleksi dari 264 Pendaftar
Pameran seni rupa tahun ini melibatkan 100 seniman terpilih dari 264 pendaftar. Mereka berasal dari sejumlah wilayah, antara lain Yogyakarta, Jawa Timur, Lampung, Bali, Jambi, dan Riau, dengan latar belakang serta medium kerja yang beragam.
Menurut Purwiati, keragaman praktik para seniman muda itu menjadi bahan utama untuk "menggambar" peta seni kontemporer Indonesia hari ini. "Pameran ini menampilkan keragaman praktik para seniman muda sekaligus mempresentasikan karya-karya yang memiliki relevansi dengan tema utama," ujarnya.
Kelas Penulisan Seni hingga Lifetime Achievement Award
Selama sepekan pelaksanaan, Nandur Srawung 2026 menghadirkan sejumlah program pendamping. Rangkaiannya mencakup Kelas Penulisan Seni, Diskusi Publik, Kuliah Umum, Lifetime Achievement Award dan Pidato Kebudayaan, Wicara Seniman, Kios Seni, serta Audience Recognition Award.
Kelas Penulisan Seni dirancang sebagai platform pengembangan kapasitas untuk mengasah kemampuan menulis, membaca, dan mengartikulasikan gagasan soal seni kontemporer. Program ini diikuti 10 penulis seni muda dari Yogyakarta dan sekitarnya.
Para peserta akan dipandu sejumlah fasilitator dengan fokus pembelajaran kritik seni, observasi, analisis karya dan pameran, serta penulisan kontekstual. Aspek sosial, budaya, dan praktik artistik menjadi pertimbangan dalam proses belajar tersebut.
Diskusi Publik Bedah Pendidikan Seni dari Dalam dan Luar
Agenda Diskusi Publik mengangkat tema "Ide-ide di (Balik) Pendidikan Seni". Forum ini bermaksud membaca praktik pendidikan seni dari sisi "dalam" dan "luar", termasuk menavigasi tantangan dan strategi keberlangsungannya dalam ekosistem seni.
Adapun Kuliah Umum bertajuk "Festival dan Seni" menitikberatkan pada seluk-beluk di balik keberadaan festival seni. Pembahasannya mencakup pertanyaan seputar ketimpangan relasi kuasa, perbedaan kepentingan, akumulasi nilai, serta tata kelola dan sistem manajerial yang kontekstual.
Lima seniman dijadwalkan hadir sebagai narasumber agar karya yang dipamerkan dapat dibaca dari lebih banyak sudut pandang. Dalam forum itu, peserta Kelas Penulisan Seni berperan sebagai penanggap sebagai ruang latihan menulis, membaca, dan menanggapi karya secara langsung.
Pameran Nandur Srawung 2026 berlangsung 21-28 Oktober 2026 di Taman Budaya Yogyakarta. Rangkaian program publiknya terbuka sebagai ruang pertemuan antara seniman, penulis, kurator, dan warga yang ingin membaca arah seni rupa kontemporer Indonesia.