Pencarian

66,5 Persen Lahan Pertanian Indonesia Rusak, Trilogi Film Ini Dorong Regenerasi Tanah untuk Selamatkan Produksi Pangan

Rabu, 19 Agustus 2026 • 13:37:01 WIB
66,5 Persen Lahan Pertanian Indonesia Rusak, Trilogi Film Ini Dorong Regenerasi Tanah untuk Selamatkan Produksi Pangan
Diskusi daring bertajuk "Regenerasi Lahan untuk Ketahanan Ekosistem, Pangan dan Komunitas" membahas pertanian regeneratif di Yogyakarta, Jumat (14/8/2026).

YOGYAKARTA — Gagasan memulihkan lahan kritis melalui praktik pertanian regeneratif mengemuka dalam diskusi daring bertajuk "Regenerasi Lahan untuk Ketahanan Ekosistem, Pangan dan Komunitas" yang digelar Jumat (14/8/2026). Diskusi ini mengangkat tiga film dokumenter yang disebut-sebut relevan dengan kondisi darurat pangan nasional: Kiss the Ground (2020), Common Ground (2023), dan Groundswell (2026).

Dari Solusi Tersembunyi Menuju Perbaikan Sistem Pangan

Chairperson of Advisory Board Social Investment Indonesia, Jalal, menjelaskan ketiga film tersebut merepresentasikan evolusi pemikiran tentang pertanian regeneratif. Kiss the Ground menjadi titik awal yang memperkenalkan konsep ini kepada publik luas dan menuai respons besar, termasuk lebih dari 45 penghargaan internasional.

Film tersebut bahkan disebut-sebut memengaruhi kebijakan Pemerintah Amerika Serikat yang kemudian mengalokasikan dana besar untuk pertanian regeneratif, meski tak luput dari kritik karena dianggap terlalu keras terhadap praktik pertanian konvensional.

"Kiss the Ground memperkenalkan konsep pertanian regeneratif dan mendapat respons besar, termasuk lebih dari 45 penghargaan serta pengaruh terhadap kebijakan Pemerintah Amerika Serikat yang kemudian mengalokasikan dana besar untuk pertanian regeneratif, meski film ini juga dikritik karena dianggap terlalu keras mengkritik pertanian konvensional," terang Jalal.

Lanjutannya, Common Ground, memperluas cakupan pembahasan dari sekadar kesehatan tanah menuju persoalan sistem pangan yang lebih kompleks. Film ini menampilkan kisah keluarga petani yang memilih beralih dari pertanian industrial ke praktik regeneratif, sekaligus mengkritisi pengaruh industri terhadap kurikulum pendidikan pertanian.

Petani Kecil dan Tantangan Biaya Transisi yang Terabaikan

Meski diakui kuat dari sisi ilmiah, kemanusiaan, dan sinematografi, Jalal menilai trilogi ini masih menyimpan sejumlah celah. Isu yang paling krusial adalah belum dibahasnya secara mendalam tantangan dan biaya transisi yang harus ditanggung petani kecil.

Penerapan pertanian regeneratif, menurutnya, berpotensi menekan produksi dan pendapatan petani pada beberapa musim awal peralihan. Hal ini menjadi pekerjaan rumah besar yang belum terjawab oleh ketiga film tersebut.

Mengapa Indonesia Butuh Peta Jalan Regenerasi Lahan?

Urgensi penerapan pertanian regeneratif di Indonesia disebut semakin mendesak. Data yang dipaparkan menunjukkan 66,5 persen lahan pertanian nasional telah mengalami kerusakan, berbanding lurus dengan penurunan produksi padi yang mengancam ketahanan pangan.

Di tengah kondisi tersebut, sejumlah proyek restoratif dan regeneratif yang melibatkan sekitar 15.000 petani mulai berjalan melalui kerja sama dengan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Jalal mendorong lahirnya dokumenter pertanian regeneratif versi Indonesia yang mengangkat pengalaman nyata petani kecil dari berbagai komoditas seperti sawit, kopi, kakao, dan padi.

Film semacam itu, lanjutnya, dapat menjadi jembatan yang menghubungkan perkembangan sains global dengan realitas lokal Indonesia—termasuk kelembagaan adat, koperasi, pembiayaan iklim, hingga kepemilikan lahan.

"Kalau kita mau membantu bumi menyembuhkan diri, maka pertanian regeneratif adalah satu-satunya cara yang bisa kita pergunakan untuk sampai ke tujuan tersebut," pungkasnya.

Jalal mengajak masyarakat untuk tidak berhenti pada menonton trilogi film tersebut, tetapi mulai mempelajari riset dan praktik pertanian regeneratif secara lebih serius. Penerapan skala besar di Indonesia dinilai mampu menjadi salah satu instrumen penting untuk memulihkan kondisi lingkungan yang kian kritis.

Follow jogjasatu.id

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: radiostar.harianjogja.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks