YOGYAKARTA — Keikutsertaan film ini di Tokyo menandai pemutaran perdana internasionalnya. Sebelum diputar di hadapan penonton Jepang, "Desember Jani" dikembangkan Ariani Darmawan selama tiga tahun bersama penulis dan penyair Cyntha Hariadi. Ide ceritanya berangkat dari kumpulan cerpen Cyntha berjudul "Manifesto Flora".
Produser Meiske Taurisia menyebut film ini sejak awal dirancang untuk berbicara kepada penonton Indonesia. Menurutnya, cerita yang berangkat dari pengalaman lokal tetap bisa menjangkau penonton dengan latar berbeda.
"Sejak awal kami membuat 'Desember Jani' untuk berbicara kepada penonton di sini (Indonesia), kepada anak, ibu, kakak, adik, dan keluarga yang mungkin pernah mengalami sulitnya memulai sebuah percakapan," kata Meiske.
Kisah Empat Perempuan dalam Satu Keluarga
Film ini mengisahkan Jani, anak berusia 13 tahun, yang menunggu kepulangan kakaknya, Julia, setelah pergi dari rumah tanpa pamit. Dalam situasi itu, Jani menyalahkan ibunya, Winnie, seorang ibu tunggal yang menjadi tulang punggung keluarga sekaligus menyimpan rasa bersalah.
Cerita berlangsung selama empat hari pada Desember. Pilihan yang dibuat Jani kemudian mendorong empat perempuan dalam keluarganya membuka percakapan yang selama ini mereka hindari.
Ariani menilai hal paling menarik dari keluarga justru hal-hal kecil yang dialami sehari-hari. Rasa sayang, marah, kecewa, dan gengsi bercampur, tetapi anggota keluarga kerap tidak tahu cara mengatakannya.
"Buat saya, yang menarik dari keluarga justru hal-hal kecil yang kita alami setiap hari. Ada rasa sayang, marah, kecewa, gengsi, tetapi kadang kita tidak tahu bagaimana cara mengatakan atau bahkan menghadapinya," kata Ariani.
Karakter yang Tidak Sepenuhnya Benar atau Salah
Cyntha Hariadi mengatakan karakter dalam film ini tidak dibuat sebagai sosok yang sepenuhnya benar ataupun salah. "Desember Jani" sekaligus menjadi debutnya dalam penulisan skenario film panjang.
"Anak bisa merasa tidak didengar, sementara orang tua merasa semua yang dilakukannya adalah untuk keluarga. Keduanya bisa sama-sama menyayangi, tetapi tetap tidak saling memahami," kata Cyntha.
"Kami ingin mereka tidak menjadi karakter yang sepenuhnya benar atau salah," ujarnya.
Chempa Puteri berperan sebagai Jani, Sigi Wimala sebagai Winnie, Tutie Kirana sebagai Oma, dan Hyori Mika sebagai Julia. Sigi menilai karakter Winnie memiliki sisi manusiawi karena kasih sayang kepada anak tidak selalu membuat orang tua mengetahui cara terbaik menjalankan perannya.
"Winnie sangat manusiawi buat saya. Dia sayang kepada anak-anaknya, tetapi rasa sayang tidak otomatis membuat seseorang selalu tahu cara yang paling tepat untuk menjadi ibu," kata Sigi.
Biaya Produksi Rp13 Miliar dan Jadwal Tayang
"Desember Jani" diproduseri Meiske Taurisia dan Muhammad Zaidy, dengan Luna Maya sebagai produser eksekutif. Estimasi biaya produksinya mencapai 747.000 dolar AS atau sekitar Rp13 miliar.
Meiske berharap perjalanan film ini di Tokyo menunjukkan bahwa cerita yang sangat lokal bisa berbicara kepada penonton dari tempat yang berbeda. Ariani pun berharap penonton di Jepang maupun Indonesia dapat menemukan pengalaman yang dekat dengan kehidupan keluarga mereka sendiri.
Setelah kompetisi Asian Future, "Desember Jani" dijadwalkan tayang di bioskop Indonesia mulai 10 Desember 2026.