JAKARTA — Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS mengawali perdagangan Rabu dengan penguatan minim. Berdasarkan data yang dipantau ANTARA, mata uang Garuda berada di posisi Rp17.860 per dolar AS, naik tipis dari posisi penutupan sebelumnya di level Rp17.862 per dolar AS.
Pergerakan ini terjadi saat pelaku pasar masih menanti sinyal kebijakan moneter terbaru dari Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia. Hasil RDG menjadi katalis yang dinilai mampu menentukan arah laju rupiah dalam beberapa hari ke depan.
Berbalik Arah Setelah Melemah Sehari Sebelumnya
Penguatan tipis pada Rabu ini memutus tren pelemahan yang terjadi pada perdagangan Selasa. Kala itu, rupiah ditutup melemah 43 poin atau turun ke posisi Rp17.841 per dolar AS.
Fluktuasi nilai tukar dalam sepekan terakhir memang masih didominasi tekanan eksternal. Data inflasi Amerika Serikat dan dinamika geopolitik Timur Tengah menjadi dua faktor utama yang terus dipantau pelaku pasar di kawasan.
Data PPI AS dan Geopolitik Timur Tengah Mewarnai Pergerakan
Sebelumnya, rupiah sempat mencatat penguatan lebih signifikan sebesar 29 poin ke level Rp17.798 per dolar AS. Penguatan tersebut dipicu rilis data indeks harga produsen (PPI) AS yang ternyata lebih rendah dari perkiraan pasar.
Namun, sentimen positif itu tidak bertahan lama. Tekanan kembali muncul seiring meningkatnya ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah yang mendorong pelaku pasar beralih ke aset aman (safe haven) seperti dolar AS. Kondisi ini sempat membuat rupiah melemah 2 poin ke posisi Rp17.879 per dolar AS pada perdagangan pekan sebelumnya.
Para analis menilai pergerakan rupiah masih akan volatil dalam jangka pendek. Selain faktor eksternal, keputusan suku bunga acuan dari bank sentral AS dan arah kebijakan moneter domestik akan menjadi penentu utama laju nilai tukar hingga akhir pekan.