YOGYAKARTA — Setelah melalui proses musyawarah kota pada 2 Mei lalu, Pengkot Persatuan Catur Seluruh Indonesia (Percasi) Kota Yogyakarta akhirnya memiliki kepengurusan baru. Inung Nurzani, yang terpilih sebagai ketua melalui dukungan 11 dari 16 klub, menegaskan bahwa Surat Keputusan (SK) yang diterimanya bukan sekadar piagam penghargaan, melainkan kontrak kerja untuk empat tahun ke depan.
"Hari ini hingga empat tahun ke depan, kita bersama-sama mengabdi kepada catur Kota Yogyakarta," kata Inung usai pelantikan yang dihadiri Ketua Umum Pengda Percasi DIY, Iwan Prihastomo, serta jajaran KONI dan Dispora Kota Yogyakarta.
Gudang Emas di 313 Sekolah Masih Tersentuh Sedikit
Inung menyebut potensi besar justru terletak pada dunia pendidikan. Data yang ia paparkan menunjukkan ada 169 SD, 66 SMP, 48 SMA, dan 30 SMK di Kota Yogyakarta. Belum lagi puluhan kampus dengan ratusan ribu mahasiswa yang tersebar di wilayah tersebut.
Namun, ia mengakui jumlah pelajar yang aktif bermain catur masih sangat sedikit. "Penyebabnya, olahraga catur jalan di tempat. Klubnya itu-itu saja. Atletnya itu-itu saja. Padahal gudang emasnya ada di sekolah," ungkapnya.
Liga Pelajar Tiga Bulanan Jadi Andalan Baru
Untuk menggarap potensi tersebut, program prioritas Percasi Kota Yogyakarta adalah memasukkan catur ke dalam kurikulum sekolah. Pengurus baru berencana mendatangi kepala sekolah dan menurunkan pelatih ke jenjang SD, SMP, hingga SMA.
Langkah konkret yang disiapkan adalah menggelar Liga Pelajar Kota Jogja setiap tiga bulan sekali. Targetnya dalam empat tahun ke depan, setiap sekolah di Yogyakarta memiliki ekstrakurikuler catur dan olahraga ini mampu menjadi yang terpopuler kedua setelah sepak bola.
KONI: Butuh Kemampuan Lebih untuk Mainkan "Barang Mati"
Mewujudkan target itu, Inung berharap dukungan penuh dari KONI, Dispora, dan para donatur. Ia juga mengajak klub dan pelatih untuk bergabung dengan Percasi Kota Yogyakarta. "Kepada para orang tua, titipkan anak penjenengan kepada kami untuk berprestasi di olahraga catur," ajaknya.
Ketua Bidang Sarpras dan Perlengkapan KONI Kota Yogyakarta, Mazda Siwi Haryanto, mendorong pengurus baru untuk memperbanyak komunikasi dengan seluruh pemangku kepentingan. Ia menilai catur bukan olahraga sembarangan karena membutuhkan kecerdasan tingkat tinggi.
"Karena di catur ini, nuwun sewu, orangnya cerdas-cerdas semua. Karena yang digerakkan itu barang mati semua. Kalau tidak punya kemampuan lebih, tidak mampu mengatur jalannya permainan catur," kata Mazda.
Pelantikan ini menjadi titik awal bagi Percasi Kota Yogyakarta untuk membuktikan bahwa catur bisa menjadi olahraga populer di kalangan pelajar, sejajar dengan sepak bola yang selama ini mendominasi ekstrakurikuler di sekolah-sekolah.