Pencarian

Jogja Financial Festival Target 20.000 Pengunjung, Wakil Wali Kota: Bisa Jadi Agenda Pekanan Dongkrak Ekonomi Kerumunan

Sabtu, 23 Mei 2026 • 10:29:06 WIB
Jogja Financial Festival Target 20.000 Pengunjung, Wakil Wali Kota: Bisa Jadi Agenda Pekanan Dongkrak Ekonomi Kerumunan
Wakil Wali Kota Yogyakarta membuka Jogja Financial Festival dengan target 20.000 pengunjung selama tiga hari.

DI YOGYAKARTA — Wakil Wali Kota Yogyakarta Wawan Harmawan membuka sesi hari kedua Jogja Financial Festival dengan sambutan yang menekankan dampak ekonomi dari keramaian pengunjung. "Ibu-ibu yang hadir banyak sekali di belakang belajar, ingin tahu banyak mengenai literasi keuangan," katanya di hadapan peserta.

Politikus PDI Perjuangan itu menyebutkan bahwa para akademisi dari Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) telah mendata pola pertumbuhan Kota Gudeg. "Teman-teman ISEI bilang Jogja tumbuh karena ekonomi kerumunan. Jadi acara seperti ini kita harapkan bisa setiap minggu," ujar Wawan.

Festival ini tidak hanya menjadi ajang edukasi literasi keuangan, tetapi juga motor penggerak bagi pelaku UMKM dan sektor jasa di sekitar JEC. Setiap stan pameran dan area workshop menyerap tenaga kerja temporer serta meningkatkan transaksi harian pedagang kaki lima di lokasi.

Berapa Target Pengunjung dan Siapa yang Paling Diuntungkan?

Pemerintah Kota Yogyakarta menargetkan total pengunjung mencapai 20.000 orang selama tiga hari penyelenggaraan. Sektor yang paling merasakan dampak langsung adalah perhotelan, transportasi daring, dan kuliner di ring satu JEC.

Para peserta yang didominasi ibu rumah tangga dan pelajar SMA/sederajat mengikuti kelas literasi keuangan dasar, simulasi investasi, dan konsultasi kredit usaha rakyat. "Saya baru tahu cara bedain reksadana sama saham. Gratis pula," ujar Rina, warga Sleman yang hadir bersama kelompok arisannya.

Mengapa Ekonomi Kerumunan Jadi Kunci Pertumbuhan Jogja?

ISEI Yogyakarta dalam riset terbarunya menemukan bahwa 60% produk domestik regional bruto (PDRB) kota ini disumbang oleh sektor jasa dan pariwisata yang sangat bergantung pada konsentrasi massa. Event seperti Jogja Financial Festival menciptakan siklus belanja dadakan (impulse buying) dan okupansi kamar hotel di luar musim liburan.

Kondisi ini berbeda dengan daerah industri seperti Bekasi atau Karawang yang bertumpu pada manufaktur. "Jogja tidak punya pabrik besar, tapi punya kemampuan mengumpulkan orang. Itulah asetnya," kata Wawan dalam kesempatan terpisah seusai acara.

Apakah Acara Ini Bisa Jadi Agenda Rutin?

Wakil Wali Kota mengusulkan agar festival serupa diadakan setiap pekan, meski dengan skala yang lebih kecil. Tantangan utamanya adalah konsistensi pendanaan dari sponsor perbankan dan perusahaan fintech.

Hingga hari kedua, panitia mencatat antusiasme masyarakat melampaui ekspektasi. Sejumlah stan perbankan melaporkan pembukaan rekening baru mencapai 500 akun per hari, mayoritas dari segmen pelajar dan ibu rumah tangga yang sebelumnya belum tersentuh layanan perbankan formal.

Apa Dampaknya bagi Warga Yogyakarta?

Warga yang hadir mendapatkan akses langsung ke produk keuangan dengan biaya administrasi nol rupiah selama festival. Selain itu, pelaku UMKM yang mengikuti sesi pendampingan berhak mengajukan pinjaman modal kerja dengan bunga maksimal 6% per tahun melalui program kredit khusus Pemkot.

"Kami ingin literasi keuangan tidak hanya teori, tapi langsung bisa dipraktikkan. Makanya kami hadirkan bank dan OJK di satu tempat," pungkas Wawan.

Bagikan
Sumber: cnbcindonesia.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks