Pencarian

Waspadai Gejala Burnout Pekerja di Yogyakarta yang Picu Gangguan Fisik dan Mental

Minggu, 10 Mei 2026 • 13:13:12 WIB
Waspadai Gejala Burnout Pekerja di Yogyakarta yang Picu Gangguan Fisik dan Mental
Pekerja di Yogyakarta mengalami gejala burnout yang berdampak pada kesehatan fisik dan mental.

YOGYAKARTA — Fenomena kelelahan bekerja atau burnout kini menjadi ancaman nyata bagi stabilitas mental dan kesehatan fisik masyarakat produktif. Kondisi ini bukan sekadar rasa lelah biasa, melainkan dampak dari stres kronis di lingkungan kerja yang tidak terkelola dengan baik dalam jangka waktu lama.

Psikolog klinis Kasandra Putranto menjelaskan bahwa burnout merupakan kondisi kelelahan emosional, fisik, dan mental yang sangat kompleks. Jika dibiarkan, dampaknya tidak hanya merusak performa profesional, tetapi juga merambat pada penurunan kualitas hidup individu secara total.

Apa Saja Tanda Burnout pada Fisik dan Perilaku Pekerja?

Gejala burnout sering kali muncul secara bertahap dan kerap dianggap sebagai kelelahan rutin. Padahal, tubuh dan pikiran memberikan sinyal spesifik yang menunjukkan bahwa kapasitas seseorang sudah melampaui batas normalnya.

“Burnout fisik (ditandai) kelelahan menerus, gangguan tidur, mudah sakit. Dari sisi psikologis kehilangan motivasi, merasa tidak dihargai, mudah marah, sedangkan secara perilaku kerja mengalami penurunan produktivitas, sinisme terhadap pekerjaan, sering absen,” kata Kasandra Putranto kepada ANTARA, Jumat (9/5/2026).

Selain itu, munculnya sikap sinis terhadap tanggung jawab pekerjaan menjadi indikator kuat bahwa seseorang sedang mengalami tekanan batin. Pekerja yang biasanya aktif tiba-tiba sulit fokus dan sering melakukan overthinking terkait tugas yang seharusnya bisa diselesaikan dengan mudah.

Mengapa Pekerja Produktif Sering Mengabaikan Gejala Stres?

Salah satu hambatan utama dalam penanganan burnout adalah adanya stigma atau perasaan bersalah saat memutuskan untuk beristirahat. Banyak pekerja yang merasa terjebak dalam lingkaran produktivitas semu karena tekanan lingkungan atau ambisi pribadi.

“Dalam banyak kasus, muncul pula dorongan untuk terus bekerja meski tubuh sudah lelah, karena merasa ‘tidak enak berhenti’ atau takut ketinggalan,” ujar Kasandra menambahkan.

Kondisi ini diperparah dengan hilangnya minat terhadap aktivitas yang sebelumnya dianggap menyenangkan. Pekerja yang mengalami burnout cenderung menarik diri dari lingkungan sosial dan merasa lelah yang tidak kunjung hilang meskipun sudah mengambil waktu libur atau istirahat di akhir pekan.

Langkah Pemulihan Melalui Intervensi Medis dan Pola Hidup

Meskipun berdampak serius, burnout merupakan sindrom yang masih bisa dipulihkan melalui intervensi yang tepat. Pemulihan membutuhkan kesadaran individu serta dukungan dari lingkungan kerja agar proses kembali sehat bisa berjalan optimal.

Kasandra menekankan pentingnya akses terhadap layanan profesional seperti konseling psikologis, terapi perilaku kognitif (CBT), hingga bantuan psikiatri jika diperlukan. Langkah ini bertujuan untuk membantu pekerja memahami sumber stres utama dan mencari mekanisme koping yang lebih sehat.

“Intinya produktivitas tetap penting, tetapi tanpa pemulihan dan keseimbangan, kinerja justru akan menurun dan biaya psikologisnya jauh lebih besar dalam jangka panjang,” tuturnya.

Selain bantuan profesional, perubahan pola hidup harian memegang peranan kunci. Pekerja disarankan untuk menjaga pola tidur yang teratur, mengonsumsi makanan bergizi seimbang, serta rutin melakukan olahraga ringan. Meluangkan waktu untuk hobi dan bersosialisasi di luar urusan kantor juga efektif untuk mengembalikan kebugaran mental.

Bagikan
Sumber: radiostar.harianjogja.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks