Michael Laudrup Kenang Trofi Pertama Swansea: Kami Kalahkan Chelsea dan Liverpool

Penulis: Fiqri Ramadhan  •  Minggu, 25 Oktober 2026 | 18:12:01 WIB
Michael Laudrup mengenang trofi mayor pertama Swansea City di Piala Liga 2013.

DI YOGYAKARTA — Michael Laudrup mengungkap sisi lain dari kesuksesan Swansea City meraih trofi mayor pertama dalam sejarah klub. Pelatih asal Denmark itu menegaskan keberhasilan di Piala Liga 2013 bukan kebetulan, melainkan buah dari gaya bermain berbasis penguasaan bola yang ia tanam sejak di Getafe.

Legenda Denmark tersebut membawa Swansea menaklukkan Bradford City 5-0 di Wembley pada final Piala Liga 2013. Trofi itu menjadi gelar mayor pertama sepanjang sejarah klub asal Wales tersebut.

Bagi Laudrup, pencapaian itu lahir dari filosofi yang ia bangun bertahun-tahun sebelumnya. Ia menilai keberhasilan bersama Getafe dan Swansea membuktikan gaya possession-based bisa diterapkan tim yang baru promosi ke kasta tertinggi.

Filosofi Possession yang Dibawa dari Getafe ke Swansea

Laudrup mengenang masa kepelatihannya di Getafe sebagai pembuktian awal kapasitasnya di bangku cadangan. Musim itu, timnya memainkan lebih banyak pertandingan dibanding Real Madrid dan Barcelona karena melaju jauh di dua kompetisi cup.

Di babak 16 besar Piala UEFA, Getafe hanya punya 14 pemain senior yang fit. Meski begitu, mereka tetap menang 2-1 atas Benfica di Estadio da Luz.

"Dengan tim-tim itu, dan Swansea kemudian, saya memainkan gaya berbasis penguasaan bola, meski Getafe dan Swansea cukup baru di kasta atas," kata Laudrup kepada FourFourTwo.

Jalan Swansea ke Wembley: Chelsea Dua Leg, Liverpool di Anfield

Reputasi Laudrup di Spanyol membuka pintu ke sepak bola Inggris. Swansea merekrutnya pada 2012 sebagai pengganti Brendan Rodgers, yang telah memantapkan klub di Premier League sebelum pindah ke Liverpool.

Perjalanan di Piala Liga menjadi panggung berikutnya. Swansea menyingkirkan Chelsea dalam dua leg semifinal, lalu menumbangkan Liverpool di Anfield. Puncaknya, Bradford City dihajar lima gol tanpa balas di final.

"Itu trofi mayor pertama dalam sejarah mereka, dan siapa yang tahu kapan mereka akan menang lagi," ujar Laudrup.

"Kami mengalahkan Chelsea dalam dua leg di semifinal dan Liverpool di Anfield. Itu luar biasa, dan sangat berarti bagi banyak orang," tambahnya.

Laudrup juga menyoroti perbedaan peran sebagai pelatih dibandingkan saat masih aktif sebagai pemain. Menurutnya, kursi pelatih menuntut jauh lebih banyak keputusan yang harus diambil.

Dipecat Februari 2014 Meski Baru Bikin Sejarah

Kisah manis itu tidak berlangsung lama. Sebulan setelah trofi, Swansea finis di paruh atas Premier League pada musim pertamanya. Namun pada Februari 2014, Laudrup dipecat saat klub berada tipis di atas zona degradasi.

"Itu berat, terutama setelah musim sukses yang kami jalani," akunya.

Musim berikutnya, Swansea masih berlaga di Europa League dan akan menghadapi Napoli di babak 32 besar. Beban jadwal dinilai memengaruhi performa pemain di liga, meski banyak tim lain juga terpuruk di papan bawah.

"Lalu tiba-tiba mereka memecat saya. Itu menyakitkan," kata Laudrup.

Beberapa tahun berselang, Swansea menghubunginya untuk kemungkinan kembali. Laudrup menolak. Ia tidak percaya pada kepulangan kedua, karena orang berharap semuanya sama seperti pertama kali, padahal tidak akan pernah sama.

Sebagai pemain, Laudrup menorehkan gelar liga di Italia dan Spanyol, plus trofi Liga Champions bersama Barcelona. Ia juga mengoleksi 100 caps untuk timnas Denmark sebelum pensiun pada 1998.

Reporter: Fiqri Ramadhan
Sumber: fourfourtwo.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top