Komisaris Pelindo: Danantara Bisa Pacu Ekonomi RI hingga 7 Persen

Penulis: Dedi Supriadi  •  Selasa, 13 Oktober 2026 | 08:07:31 WIB
Komisaris Pelindo Arief Poyuono menilai Danantara dapat mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia hingga 6–7 persen per tahun.

DI YOGYAKARTA — Komisaris PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) Arief Poyuono menilai BPI Danantara mampu mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia hingga 6–7 persen per tahun. Target itu disebut sebagai jalan keluar dari jebakan pendapatan menengah atau middle-income trap. Konsolidasi 844 BUMN di bawah satu komando menjadi kunci utama strategi tersebut.

Dari Birokrasi Anggaran ke Strategi Permodalan

Arief menyebut perubahan pendekatan ini sebagai transisi besar. Selama ini pengelolaan perusahaan negara cenderung berfokus pada anggaran, bukan pada strategi permodalan yang agresif dan berorientasi pada imbal hasil.

"Ini adalah transisi dari birokrasi yang berfokus pada anggaran, menuju strategi permodalan yang agresif dan berorientasi pada return," ujar Arief di Jakarta, Senin (12/10).

Lembaga yang dibentuk pada era pemerintahan Presiden Prabowo Subianto itu diharapkan mampu meningkatkan produktivitas aset negara. Konsolidasi BUMN di bawah Danantara dinilai menjadi momentum memperbaiki pengelolaan perusahaan negara yang selama ini menghadapi persoalan efisiensi, tumpang tindih kegiatan usaha, serta ketergantungan terhadap subsidi.

"Dengan mengonsolidasikan 844 BUMN di bawah satu komando, Danantara bertujuan mengubah perusahaan negara yang berkinerja rendah atau bergantung pada subsidi menjadi aset ekonomi yang sangat produktif," katanya.

Target Pertumbuhan dan Ukuran Keberhasilan

Arief menempatkan Danantara sebagai salah satu instrumen penting untuk meningkatkan pendapatan nasional bruto. Menurut dia, target pertumbuhan PDB tahunan di kisaran 6–7 persen hanya bisa dicapai jika pengelolaan investasi dilakukan secara profesional dan modal diarahkan ke sektor-sektor produktif.

"Danantara adalah mekanisme krusial untuk meningkatkan pendapatan nasional bruto. Lembaga ini ditargetkan untuk memacu pertumbuhan PDB tahunan yang berkelanjutan di kisaran 6% hingga 7%," jelasnya.

Ia menekankan keberhasilan Danantara tidak cukup diukur dari besarnya dana yang dikelola. Kinerja investasi, produktivitas perusahaan, dan kemampuan menghasilkan nilai tambah ekonomi harus menjadi bagian dari evaluasi lembaga tersebut.

Penyangga Krisis dan Tabungan Generasi Mendatang

Selain mendorong pertumbuhan, Arief menilai Danantara berfungsi menjaga ketahanan keuangan negara. Ia mengacu pada praktik sovereign wealth fund (SWF) yang diterapkan sejumlah negara, termasuk model GIC dan Temasek di Singapura.

"Danantara dirancang sebagai dana struktural, bukan dana APBN. Ia harus menjadi benteng fiskal sekaligus warisan kekayaan untuk anak cucu kita," tegasnya.

Ada dua fungsi yang ia soroti. Pertama, menjadi penyangga keuangan ketika krisis makroekonomi global terjadi. Kedua, membangun tabungan jangka panjang yang memberi manfaat ekonomi bagi generasi mendatang. Dengan pendekatan itu, pengelolaan aset negara diharapkan tidak hanya mengejar keuntungan jangka pendek, tetapi juga memperkuat ketahanan ekonomi terhadap gejolak eksternal.

Alokasi 20 Persen untuk Investasi Global

Dalam strategi investasi, Arief mendukung rencana alokasi sekitar 20 persen dana kelolaan Danantara untuk investasi global. Diversifikasi ke luar negeri dinilai membuka peluang imbal hasil sekaligus memperluas akses Indonesia terhadap aset dan teknologi strategis.

Salah satu peluang yang ia sorot adalah potensi akuisisi properti di Mekkah untuk mendukung kebutuhan jamaah haji Indonesia. Ia juga menyinggung kemungkinan kemitraan teknologi dengan Russian Direct Investment Fund (RDIF) dari Rusia.

Sekitar 80 persen dana lainnya direncanakan mendukung pembiayaan alternatif infrastruktur berkelanjutan di dalam negeri. Menurut Arief, strategi ini dapat memperluas sumber pendanaan pembangunan sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap utang luar negeri dan APBN.

Tata Kelola Jadi Penentu

Menanggapi kekhawatiran soal risiko negara atau sovereign risk dan potensi politisasi BUMN, Arief memandang konsolidasi lewat Danantara sebagai upaya memperbaiki struktur pengelolaan perusahaan negara. Fragmentasi pengelolaan BUMN, katanya, berpotensi menimbulkan inefisiensi dan tumpang tindih kegiatan usaha.

Karena itu, konsolidasi perlu diikuti penguatan profesionalisme dan tata kelola perusahaan. Ia menegaskan keberhasilan Danantara sangat bergantung pada kemampuan lembaga itu menjaga transparansi dan independensi dalam pengelolaan dana.

Bagi pelaku pasar, pernyataan Arief menambah deretan ekspektasi terhadap Danantara sebagai kendaraan investasi negara. Namun realisasi target pertumbuhan 6–7 persen tetap bergantung pada eksekusi konsolidasi 844 BUMN, perencanaan investasi yang matang, dan evaluasi imbal hasil yang konsisten.

Reporter: Dedi Supriadi
Sumber: voi.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top