DI YOGYAKARTA — Jika prosesor tidak kuat, layar 144Hz justru akan memicu thermal throttling—penurunan performa otomatis saat suhu naik. Alhasil, gim yang tadinya lancar di menit pertama bisa berubah patah-patah di menit berikutnya. Ini adalah jebakan spesifikasi semu yang paling sering dialami pembeli.
Layar dengan refresh rate tinggi adalah salah satu komponen paling boros energi. Menjalankan panel 144Hz secara terus-menerus akan menguras baterai jauh lebih cepat dibandingkan layar standar. Produsen biasanya menyediakan opsi untuk beralih ke 60Hz atau 120Hz demi menghemat daya, tapi fitur ini sering kali tidak dijelaskan secara gamblang di pemasaran.
Untuk pemakaian harian yang normal—sekadar media sosial, chatting, dan nonton video—perbedaan antara 120Hz dan 144Hz nyaris tidak terlihat. Nilai lebih dari layar 144Hz baru terasa maksimal pada gim kompetitif yang mendukung frame rate tinggi. Pertanyaannya, apakah Anda benar-benar butuh, atau hanya tergiur angka di atas kertas?
Konsumen harus mulai memeriksa spesifikasi pendukung, bukan hanya panelnya. Perhatikan jenis chipset yang digunakan, efisiensi arsitekturnya, serta kapasitas baterai dan kecepatan pengisian dayanya. Sistem pendingin berbasis vapor chamber atau graphene juga menjadi nilai plus yang patut dipertimbangkan.
Layar 144Hz adalah fitur yang menyenangkan, tapi bukan satu-satunya penentu pengalaman menggunakan ponsel. Jangan sampai Anda mengeluarkan uang hanya untuk sebuah angka, lalu menerima kompromi besar di sektor daya tahan dan performa jangka panjang. Pilih perangkat yang menyeimbangkan semua aspek, bukan yang hanya unggul di satu baris spesifikasi.