DI YOGYAKARTA — Pertumbuhan ekonomi Indonesia selama ini bertumpu pada konsumsi rumah tangga yang berkontribusi lebih dari separuh Produk Domestik Bruto (PDB). Namun, untuk mencapai target ambisius 6 persen, struktur tersebut dinilai tidak lagi memadai. Ekonomi membutuhkan percepatan di sektor investasi dan penguatan kinerja ekspor secara bersamaan.
Persoalannya, dua sektor tersebut masih menghadapi hambatan struktural. Impor yang terus meningkat menggerus manfaat dari aktivitas ekspor, sementara efisiensi modal atau incremental capital output ratio (ICOR) yang tinggi membuat setiap tambahan investasi tidak menghasilkan pertumbuhan yang optimal.
Ketergantungan pada konsumsi membuat ekonomi rentan terhadap gejolak daya beli masyarakat. Ketika inflasi naik atau pendapatan melambat, pertumbuhan ikut tertekan. Target 6 persen membutuhkan kontribusi investasi yang jauh lebih besar terhadap PDB, bukan sekadar pertumbuhan konsumsi yang organik.
Investasi swasta, khususnya di sektor manufaktur dan hilirisasi sumber daya alam, menjadi kunci. Tanpa itu, kapasitas produksi dalam negeri sulit berkembang untuk memenuhi permintaan domestik maupun pasar global.
Struktur impor Indonesia yang didominasi bahan baku dan barang modal sebenarnya mencerminkan lemahnya industri pendukung dalam negeri. Alih-alih mendorong nilai tambah, impor justru menjadi kebocoran yang mengurangi dampak positif dari belanja pemerintah dan investasi.
Selain itu, ICOR yang tinggi mengindikasikan bahwa setiap satu unit investasi menghasilkan output yang lebih rendah dibandingkan negara tetangga. Hal ini disebabkan oleh birokrasi yang berbelit, infrastruktur yang belum merata, dan kualitas sumber daya manusia yang masih perlu ditingkatkan.
Pemerintah perlu merancang kebijakan yang secara khusus menyasar peningkatan produktivitas. Insentif fiskal yang tepat sasaran, penyederhanaan perizinan, serta kepastian hukum menjadi prasyarat agar investasi masuk dan berdampak nyata pada penciptaan lapangan kerja.
Di sisi eksternal, diversifikasi pasar ekspor dan penguatan daya saing produk non-migas harus menjadi prioritas. Indonesia tidak bisa lagi mengandalkan komoditas mentah yang harganya fluktuatif; nilai tambah melalui pengolahan di dalam negeri adalah keniscayaan.
Reformasi di sektor energi dan logistik juga krusial untuk menekan biaya produksi. Efisiensi di dua sektor ini akan langsung terasa pada daya saing produk Indonesia di pasar internasional.
Tanpa terobosan di sektor investasi dan ekspor, target pertumbuhan 6 persen hanya akan menjadi wacana. Konsumsi tetap penting, tetapi ia tidak akan pernah cukup untuk membawa ekonomi Indonesia ke level berikutnya.