DI YOGYAKARTA — Konflik keluarga selalu menjadi lahan subur bagi sineas Indonesia untuk mengeksplorasi emosi dan psikologi karakter. Anak-anak yang terjebak di tengah pertikaian orang tua atau ekspektasi keluarga yang membebani, menjadi titik tolak narasi yang dekat dengan keseharian penonton.
Film-film ini tidak sekadar bercerita tentang perceraian atau pertengkaran rumah tangga. Lebih dari itu, mereka menyoroti bagaimana anak-anak membangun konsep diri ketika fondasi keluarga mereka goyah. Beberapa judul bahkan berhasil menembus penonton jutaan orang, membuktikan tema ini punya daya tarik yang kuat di pasar lokal.
Berikut enam rekomendasi film Indonesia yang mengangkat perjuangan anak menemukan jati diri di tengah konflik keluarga.
Adaptasi dari novel populer karya Marchella FP ini disutradarai oleh Angga Dwimas Sasongko dan tayang perdana di bioskop pada Januari 2019. Film ini mengikuti perjalanan Awan (Sheila Dara), seorang perempuan muda yang tumbuh di bawah bayang-bayang standar kesempurnaan yang ditetapkan sang ayah.
Konflik batin Awan memuncak ketika ia menyadari bahwa keluarganya menyimpan rahasia besar yang selama ini disembunyikan. Film ini mencatatkan lebih dari 1,7 juta penonton selama penayangannya di bioskop, sebuah angka yang solid untuk drama keluarga.
Diadaptasi dari sinetron legendaris era 90-an, film arahan Yandy Laurens ini mengambil sudut pandang dua anak, Euis dan Ara, yang harus beradaptasi dengan kehidupan sederhana di desa setelah keluarga mereka bangkrut. Tayang perdana pada Januari 2019, film ini meraih lebih dari 1,7 juta penonton.
Alih-alih berfokus pada kesedihan, film ini justru menampilkan bagaimana kedua kakak beradik itu menemukan kebahagiaan baru di tengah keterbatasan. Nilai-nilai kekeluargaan menjadi kompas utama mereka untuk tetap teguh.
Gina S. Noer mengarahkan film ini yang rilis pada Juli 2019, mengisahkan Dara (Angga Yunanda) dan Bima (Adhisty Zara), dua remaja yang harus menghadapi konsekuensi dewasa setelah hubungan mereka berujung pada kehamilan di luar nikah. Mereka harus berjuang melawan stigma sosial dan tekanan dari kedua keluarga yang saling menyalahkan.
Film ini berhasil mengumpulkan lebih dari 2,5 juta penonton dan memantik diskusi publik tentang pendidikan seksual. Sekuelnya, Dua Garis Biru: Kisah Bima dan Dara, dirilis pada 2023 untuk melanjutkan kisah mereka sebagai orang tua muda.
Ernest Prakasa menyutradarai film yang rilis pada Desember 2017 ini, dibintangi oleh Adinia Wirasti dan Gading Marten. Kisahnya berpusat pada Ellen, seorang pengacara sukses yang lebih mementingkan karier daripada putrinya, Kikan. Ketika Ellen harus melakukan perjalanan ke Sumba bersama anaknya, hubungan mereka yang renggang mulai diuji.
Dari perspektif Kikan, film ini menunjukkan bagaimana seorang anak merindukan kehadiran emosional orang tuanya. Komedi yang dibalut drama ini berhasil meraih lebih dari 1,6 juta penonton di bioskop.
Film arahan Kamila Andini ini tayang perdana di Toronto International Film Festival 2021 dan meraih penghargaan Platform Prize. Berlatar di Banten, film ini mengikuti Yuni (Arawinda Kirana), seorang siswi SMA yang bercita-cita melanjutkan kuliah, namun harus menghadapi tekanan perjodohan dari lingkungan sekitarnya.
Yuni berulang kali menolak lamaran, namun setiap penolakan itu semakin mempersempit ruang geraknya. Film ini menjadi salah satu representasi paling tajam tentang bagaimana anak perempuan berjuang menentukan masa depannya sendiri di tengah konvensi sosial yang kaku.
Gina S. Noer kembali menyutradarai film ini yang rilis pada 2021, dibintangi oleh Rio Dewanto dan Cut Mini. Kisahnya mengikuti Dara kecil yang tumbuh dengan trauma karena ayahnya sering bertengkar dengan ibunya. Trauma ini terbawa hingga dewasa dan memengaruhi cara pandangnya terhadap hubungan asmara.
Film ini menawarkan sudut pandang yang berbeda: bagaimana seorang anak yang sudah dewasa masih bergulat dengan luka masa kecilnya. Proses penyembuhan menjadi tema utama, menunjukkan bahwa mencari jati diri juga berarti berdamai dengan masa lalu.
Deretan film di atas membuktikan bahwa sinema Indonesia mampu mengolah isu keluarga dan identitas diri menjadi tontonan yang bermakna. Kehadiran judul-judul ini juga memperkaya ragam genre drama keluarga di tengah dominasi film horor dan komedi di pasar domestik.