DI YOGYAKARTA — Di Paris, sekitar 700 orang memadati Wisma Duta RI pada Senin (17/8/2026). Dari jumlah tersebut, 150 di antaranya adalah warga Prancis, masyarakat internasional, keluarga perkawinan campur, dan para Indonesianis. Angka ini menunjukkan daya tarik Indonesia yang melampaui sekadar komunitas diaspora.
Duta Besar RI untuk Prancis, Mohamad Oemar, memimpin langsung upacara detik-detik Proklamasi. Pengibaran bendera Merah Putih dilakukan oleh 11 anggota Paskibraka yang berasal dari pelajar dan mahasiswa Indonesia di Prancis. Usai upacara, rangkaian acara berlanjut dengan doa bersama untuk korban gempa di Nusa Tenggara Timur, pemotongan tumpeng Cita Nusantara, hingga pertunjukan tari Poco-Poco dan Gemu Fa Mi Re.
Johannes Doy, pengusaha asal Indonesia, dinilai berjasa besar karena melalui perusahaannya, Tribal Voices, ia secara konsisten mempromosikan dan memasarkan karya kerajinan perajin Indonesia di pasar Kanada selama lebih dari tiga dekade. Di sisi lain, Ugo Monticone, penulis sekaligus sineas asal Quebec, diapresiasi atas film dokumenternya tentang Bali yang telah tayang di Kanada dan sejumlah negara Eropa.
Pola perayaan di dua negara tersebut menunjukkan pergeseran fungsi diplomatik. Peringatan kemerdekaan kini dirancang tidak hanya untuk memperkuat ikatan kebangsaan warga negara Indonesia di perantauan, tetapi juga sebagai instrumen untuk membuka akses pasar dan memperkenalkan kreativitas serta kontribusi Indonesia di tingkat internasional. Ini sejalan dengan upaya pemerintah memperluas non-traditional market di tengah dinamika ekonomi global.