YOGYAKARTA — Setelah puluhan tahun hanya dikenal lewat gerobak dorong di pasar malam dan kawasan alun-alun, Es Goreng Pak Gatot kini resmi memiliki kedai tetap. Putra kedua Pak Gatot, Yoga, mengungkapkan bahwa pengembangan usaha ini merupakan respons atas banyaknya permintaan dari pelanggan setia yang menganggap jajanan tersebut sudah menjadi ikon kuliner legendaris di Kota Pelajar.
“Banyak masukan dari teman-teman dan pelanggan kami, es goreng ini sudah termasuk jajanan legend. Setelah itu kami buat counter dan alhamdulillah banyak anak-anak yang mencoba, ternyata viral,” ungkap Yoga, Selasa (11/08/2026).
Kedai anyar ini memanfaatkan garasi rumah keluarga sebagai lokasi usaha. Meski tampil dengan konsep baru, resep dan bahan baku yang digunakan tidak berubah sejak usaha ini dirintis pada 1981 silam.
Yoga menjelaskan, usaha keluarganya bermula dengan nama es potong. Baru pada tahun 1992, sang ayah menambahkan lapisan cokelat sebagai pembeda di tengah ketatnya persaingan pedagang es, sehingga nama es goreng pun lahir dan melekat hingga sekarang.
Yoga menegaskan bahwa meskipun harga di kedai premium lebih tinggi, kualitas bahan baku tetap menjadi prioritas utama. Pihaknya tidak pernah berpindah dari santan kelapa asli ke santan instan untuk menjaga cita rasa.
“Banyak es potong atau es goreng tiruan yang kualitasnya berbeda karena tidak memakai santan. Kalau kami memakai santan kelapa asli, yang premium,” ujarnya.
Untuk mempertegas posisi sebagai jajanan premium, kedai ini juga menyediakan topping kekinian seperti biskuit biscoff dan oreo. Yoga menyebut semua topping yang digunakan tetap dipilih dari produk berkualitas agar pengalaman menikmati es goreng terasa lebih mewah.
“Kami ingin es goreng ini naik kelas dari jajanan jalanan menjadi sajian premium, jadi kualitasnya harus baik semua, mulai dari bahan baku, topping dan juga kemasannya,” ucap Yoga.
Di tengah menu yang ditawarkan, varian rasa durian, nangka, dan kacang hijau disebut-sebut menjadi primadona bagi pembeli di kedai baru ini. Ketiganya mempertahankan cita rasa klasik yang sudah dikenal pelanggan sejak lama.
Ke depan, pihak keluarga berencana memperluas kedai dengan dua konsep berbeda. Konsep pertama adalah klasik, yang akan menampilkan koleksi sepeda tua layaknya mini museum. Konsep kedua mengusung nuansa kafe modern untuk menarik pengunjung dari kalangan anak muda.