Siswa Sekolah Rakyat Kulonprogo Alami Homesick, Satu Anak Resmi Mundur dan Dua Lainnya Menyusul

Penulis: Boyke Sihombing  •  Jumat, 14 Agustus 2026 | 22:12:02 WIB
Seorang siswa Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Kulonprogo resmi mengundurkan diri karena homesick, sementara dua lainnya menyusul.

KULONPROGO — Masa adaptasi di Sekolah Rakyat (SR) Terintegrasi 1 Kulonprogo diwarnai dinamika yang tidak sederhana. Sejumlah siswa yang baru menjalani pendidikan kurang dari satu bulan justru memilih meninggalkan asrama karena tidak tahan dengan rasa rindu pada orang tua dan rumah.

Pelaksana Tugas Kepala SR Terintegrasi 1 Kulonprogo, Agus Ristanto, mengungkapkan bahwa awalnya terdapat sembilan siswa yang menyatakan ingin pulang. Setelah dilakukan komunikasi intensif, sebagian dari mereka bersedia bertahan, namun tidak semuanya.

"Awalnya sembilan, terus dua siswa dalam proses komunikasi dan penanganan lanjut, sedangkan ada satu siswa yang sudah resmi mengundurkan diri secara tertulis atas persetujuan orang tuanya," katanya saat ditemui di SR Terintegrasi 1 Kulonprogo, Jumat (14/8/2026).

Kelonggaran HP Justru Memicu Rindu Rumah

Agus menjelaskan bahwa pemicu utama ketidakbetahan siswa justru berasal dari kebijakan sekolah yang memberikan akses ponsel untuk komunikasi dengan orang tua. Alih-alih menenangkan, fasilitas tersebut menjadi celah bagi anak-anak untuk meluapkan kerinduannya.

"Ketika kami memberikan HP itu untuk komunikasi, anak-anak memanfaatkannya untuk minta dijemput: 'Jemput aku Bu, jemput aku Pak.' Orang tua yang tidak tega akhirnya datang menjemput," jelas Agus.

Menanggapi kondisi ini, sekolah kini memperketat dan membatasi penggunaan HP bagi siswa yang tinggal di asrama. Langkah ini diambil agar proses habituasi kehidupan berasrama dapat berjalan mandiri tanpa pemicu emosional yang berlebihan dari luar.

Dipastikan Bukan karena Perundungan

Agus menegaskan bahwa kasus homesick ini murni berkaitan dengan faktor pribadi dan proses penyesuaian diri, bukan akibat perundungan atau senioritas. Seluruh siswa SR Terintegrasi 1 Kulonprogo saat ini masih merupakan angkatan pertama, sehingga tidak ada jenjang kakak kelas di lingkungan asrama.

Adapun kakak kelas dari SR Bantul yang hadir hanya berperan sebagai pendamping untuk membantu proses penyesuaian siswa baru. Sekolah memastikan tidak ada tekanan dari pihak lain yang membuat siswa merasa tidak nyaman.

Satu Siswa Resmi Mundur, Enam Masih Beradaptasi

Waka Kesiswaan SR Terintegrasi 1 Kulonprogo, Ikhsan, mengatakan bahwa keputusan mundur telah menjadi keinginan siswa dan mendapat persetujuan dari orang tuanya. Pihak sekolah tidak dapat memaksakan siswa yang sudah bulat untuk bertahan.

"Siswa-siswa yang mengalami kendala adaptasi ini tidak hanya berasal dari satu daerah, melainkan tersebar dari berbagai wilayah di DIY, seperti Gunungkidul, Sleman, Bantul, hingga Kulonprogo," ucapnya.

Saat ini, satu siswa telah resmi mengundurkan diri secara tertulis, dua siswa lainnya masih dalam proses pengunduran diri, dan enam siswa sisanya masih menjalani pendampingan agar dapat bertahan. Sekolah terus melakukan komunikasi intensif dengan orang tua untuk membantu anak-anak melewati masa transisi ini tanpa merasa tertekan.

Reporter: Boyke Sihombing
Sumber: jogjapolitan.harianjogja.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top