KULON PROGO — Ratusan anak dari keluarga prasejahtera di Kulon Progo kini menempati bangunan asrama Sekolah Rakyat Terintegrasi 1. Mereka mengikuti MPLS yang berlangsung Jumat (31/7/2026) sebagai pintu gerbang sebelum kegiatan belajar mengajar dimulai.
Total siswa yang terdaftar pada angkatan perdana ini mencapai 359 orang. Rinciannya, 31 siswa duduk di jenjang SD, 158 siswa di tingkat SMP, dan 170 siswa lainnya di jenjang SMA.
Berbeda dengan sekolah umum, para siswa tidak hanya datang untuk belajar lalu pulang. Mereka tinggal di asrama yang disediakan negara selama menempuh pendidikan di sekolah berasrama tersebut.
Kehadiran mereka di asrama pada hari Jumat itu menjadi penanda dimulainya proses pembinaan karakter dan kemandirian. Pola ini dirancang agar pendampingan terhadap anak-anak dari keluarga kurang mampu berjalan menyeluruh, tidak terbatas pada jam pelajaran di kelas.
Data dari panitia menunjukkan jenjang SMP menjadi kelompok dengan jumlah siswa terbanyak, mencapai 158 anak. Disusul jenjang SMA dengan 170 siswa, sementara jenjang SD tercatat 31 siswa.
Seluruh siswa tersebut berasal dari keluarga yang masuk kategori kurang mampu, sesuai dengan sasaran utama program Sekolah Rakyat yang diinisiasi pemerintah. Program ini bertujuan memberikan akses pendidikan setara bagi anak-anak yang selama ini terkendala biaya.
Kegiatan MPLS di sekolah berasrama memiliki bobot lebih berat dibanding sekolah reguler. Selain mengenal lingkungan akademik, siswa juga harus beradaptasi dengan kehidupan kolektif di asrama, termasuk aturan jadwal harian yang ketat.
Proses pengenalan ini menjadi fondasi awal sebelum mereka mengikuti pembelajaran reguler. Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 di Gulurejo, Lendah, menjadi salah satu lokasi percontohan pelaksanaan program ini di DI Yogyakarta.