5 Fakta Mengapa Gunungkidul Kekeringan Setiap Kemarau Meski Bawah Tanahnya Kaya Air

Penulis: Dedi Supriadi  •  Kamis, 30 Juli 2026 | 19:30:01 WIB
Warga Gunungkidul menjual hewan ternak untuk membeli air bersih saat kemarau.

GUNUNGKIDUL — Ironi kekeringan di Gunungkidul terjadi setiap tahun. Di satu sisi, warga kesulitan air bersih hingga harus menjual hewan ternak. Di sisi lain, di bawah permukaan tanahnya mengalir sungai bawah tanah dengan debit mencapai ribuan liter per detik.

Bukan Karena Minim Air, Tapi Soal Akses

Kepala daerah dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DIY berulang kali menyebut bahwa masalah utama Gunungkidul bukanlah ketersediaan air. Kabupaten yang masuk dalam kawasan Karst Gunung Sewu ini justru memiliki cadangan air bawah tanah yang melimpah.

Permasalahannya terletak pada akses. Air mengalir di kedalaman puluhan hingga ratusan meter di bawah tanah, sementara permukaan tanahnya kering kerontang saat kemarau panjang tiba.

Batuan Karst: Penyebab Air Langsung Meresap ke Bawah

Dominasi batuan kapur atau karst menjadi biang keladi utama. Batuan ini memiliki sifat poros dan mudah larut oleh air hujan. Akibatnya, air hujan tidak sempat menggenang di permukaan dan langsung meresap ke dalam tanah melalui celah-celah batuan.

Proses ini membentuk sistem sungai bawah tanah yang masif di kawasan Karst Gunung Sewu. Namun, untuk mencapai aliran tersebut, diperlukan teknologi pengeboran dan pemompaan yang tidak murah.

Debit Air Melimpah, Tapi Tak Terjangkau Warga

Data dari berbagai sumber menyebutkan debit sungai bawah tanah di Gunungkidul bisa mencapai ribuan liter per detik. Jumlah ini sebenarnya lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan seluruh warga di musim kemarau.

Sayangnya, sumur permukaan warga hanya menggali di kedalaman terbatas. Saat kemarau, lapisan tanah paling atas benar-benar kering dan sumur-sumur itu kehabisan air. Warga pun terpaksa mengambil air dari sumber yang jaraknya berkilo-kilometer atau membeli air dari penampung dengan harga tinggi.

Dampak Sosial: Ternak Dijual Demi Air Bersih

Dampak paling pahit dirasakan peternak dan petani. Mereka kerap menjual hewan ternak untuk mendapatkan uang guna membeli air bersih. Langkah ini diambil sebagai jalan keluar paling cepat ketika pasokan air dari sumber terdekat sudah tidak bisa diandalkan.

Pemkab Gunungkidul dan BPBD DIY setiap tahun mengirimkan bantuan air bersih melalui tanki ke desa-desa yang masuk zona merah kekeringan. Namun, bantuan ini sifatnya sementara dan belum menyentuh akar masalah geologis.

Solusi Jangka Panjang Masih Terkendala Biaya

Pemerintah daerah terus mendorong pembangunan infrastruktur penampung air hujan seperti embung dan waduk di permukaan. Selain itu, pengeboran sumur dalam untuk mencapai sungai bawah tanah juga menjadi program prioritas.

Kendalanya, biaya pengeboran dan perawatan pompa di kawasan karst sangat tinggi. Belum lagi risiko kegagalan pengeboran karena struktur batuan yang tidak menentu. Hingga kini, sebagian besar warga masih bergantung pada air bantuan dan sumber mata air alami yang tersisa saat kemarau tiba.

Reporter: Dedi Supriadi
Sumber: jogja.idntimes.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top