DI YOGYAKARTA — PGN, sebagai bagian dari Subholding Gas Pertamina, menyadari bahwa keselamatan migas adalah fondasi utama dalam menjalankan bisnis penyaluran gas bumi. Tanpa sistem keamanan yang ketat, risiko kebocoran atau ledakan pada jaringan pipa bisa mengancam keselamatan warga dan mengganggu pasokan energi industri.
Sinergi antara PGN dan Ditjen Migas menyasar sejumlah aspek krusial. Mulai dari penyempurnaan standar operasi prosedur (SOP) di lapangan, peningkatan kompetensi teknisi, hingga simulasi tanggap darurat secara berkala.
Direktur Utama PGN, Arief Setiawan Handoko, menegaskan bahwa keamanan infrastruktur gas bukan hanya tanggung jawab perusahaan semata. "Kami butuh pengawasan dan bimbingan regulator agar standar keselamatan yang diterapkan benar-benar sesuai dengan regulasi terbaru," ujarnya dalam keterangan resmi, pekan lalu.
Selain itu, PGN juga mendorong partisipasi aktif masyarakat di sekitar jaringan pipa. Warga diminta untuk segera melaporkan jika melihat aktivitas mencurigakan atau potensi kebocoran.
Infrastruktur gas bumi PGN membentang ribuan kilometer, melayani kebutuhan rumah tangga, pelanggan komersial, hingga industri besar. Jika terjadi gangguan pada salah satu titik, rantai pasokan bisa terputus dan memicu kerugian ekonomi.
Dengan penguatan sinergi ini, PGN berharap tingkat keandalan pasokan gas bisa terjaga di atas 99 persen. Angka ini krusial mengingat gas bumi masih menjadi energi transisi utama sebelum Indonesia beralih penuh ke energi baru terbarukan.
Ditjen Migas sendiri menyambut baik inisiatif PGN. Mereka menilai, pendekatan preventif lebih efektif dibandingkan tindakan korektif setelah kecelakaan terjadi.
Ke depan, PGN dan Ditjen Migas akan menggelar audit bersama terhadap seluruh aset infrastruktur gas. Pipa-pipa yang sudah berusia tua akan mendapat prioritas pemeriksaan lebih ketat.
Tak hanya itu, PGN juga menargetkan seluruh teknisi dan operator lapangan memiliki sertifikasi keselamatan migas yang diakui pemerintah. Sertifikasi ini menjadi syarat mutlak untuk meminimalisir kesalahan manusia (human error) yang kerap menjadi penyebab utama kecelakaan kerja.
Kolaborasi ini menjadi bukti bahwa keselamatan operasional tidak bisa ditawar. Untuk perusahaan sekelas PGN yang mengelola energi vital negara, risiko sekecil apapun harus diantisipasi sejak dini.