DI YOGYAKARTA — PSIM Yogyakarta tidak hanya menjual performa di lapangan. Liana Tasno menegaskan bahwa nilai-nilai tradisional menjadi fondasi visual klub. Dalam forum bertema "Local Roots, Global Dreams: Budaya Jogja sebagai Masa Depan Fashion Sport Indonesia", ia menjelaskan proses kreatif jersey tim.
"Kami memilih untuk mengadopsi filosofi dari Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Berbagai nilai budaya tersebut kami terjemahkan ke dalam desain jersey, termasuk mengangkat konsep Hamemayu Hayuning Bawana," ujar Liana.
Salah satu contoh paling konkret adalah jersey edisi khusus saat PSIM menjuarai Liga 2 musim 2024/2025. Pada seragam tersebut, siluet Pangeran Mangkubumi disematkan sebagai simbol kepemimpinan dan kejayaan.
"Beliau adalah arsitek utama Keraton Ngayogyakarta yang menjadi simbol kepemimpinan kuat, yang kami yakini mampu membawa tim menuju kesuksesan," tambah Liana.
Keyakinan Liana terhadap potensi budaya lokal menguat setelah ia mengikuti program kepemimpinan perempuan global di bidang olahraga di Amerika Serikat pada akhir tahun lalu. Pengalaman itu membuka perspektif baru tentang keunikan Indonesia.
"Saat berada di Amerika Serikat, saya melihat bahwa masyarakat di sana merasa kurang memiliki akar budaya yang kuat dan merata. Hal ini sangat berbeda dengan kita di Indonesia yang dianugerahi kekayaan budaya yang sangat luar biasa," tuturnya.
Menurut Liana, keistimewaan Yogyakarta terletak pada nilai-nilai tradisi yang tetap terjaga dan hidup hingga saat ini. Keunikan inilah yang menjadi nilai jual utama produk asal Yogyakarta di mata dunia.
PSIM Yogyakarta tidak hanya berhenti pada wacana. Liana membeberkan bahwa klub mulai mengambil langkah nyata dengan mendekatkan produk ke pintu gerbang pasar internasional. Strategi ini menjadi bagian dari rencana besar ekspansi global klub.
Ia optimistis bahwa identitas kedaerahan yang unik harus dijadikan kekuatan utama bagi kemajuan industri kreatif tanah air. "Gagasan yang saya sampaikan berfokus pada bagaimana budaya Yogyakarta mampu menjadi masa depan bagi sport fashion di Indonesia. Kita punya potensi besar untuk bersaing di tingkat nasional maupun global," ujar Liana.
Dengan pendekatan ini, PSIM berharap bisa menjadi contoh klub sepak bola di Indonesia yang mampu mengkomersialkan warisan budaya tanpa kehilangan esensinya.