Bayangkan rumah Anda bukan lagi tempat berteduh, melainkan sebuah sistem yang terus-menerus memonitor, mengkritik, dan mengatur perilaku Anda. Itulah yang terjadi dalam sebuah eksperimen yang didokumentasikan oleh seorang pengguna teknologi. Ia sengaja mengkonfigurasi ulang sistem otomatisasi rumah pintarnya, Home Assistant, untuk berperilaku layaknya "Big Brother" dari novel 1984 karya George Orwell.
Awalnya, eksperimen ini dimulai dengan niat yang lebih sederhana: membuat sistem yang bisa mengomeli penggunanya jika terlalu lama duduk atau tidak fokus bekerja. Namun, rasa penasaran untuk melihat sejauh mana otomatisasi bisa diakali justru mendorongnya ke arah yang lebih ekstrem.
Ia kemudian merancang serangkaian aturan (automation) yang agresif. Sensor gerak, kamera, dan data dari berbagai perangkat pintar di rumah digunakan untuk melacak setiap aktivitas. Tujuannya bukan untuk kenyamanan, melainkan untuk menciptakan tekanan psikologis yang konstan.
Sistem yang ia bangun bekerja tanpa ampun. Jika sensor tempat duduk mendeteksi ia sudah duduk terlalu lama, lampu ruangan akan berkedip-kedip dengan intensitas menyilaukan. Speaker pintar akan mengeluarkan suara peringatan bernada tinggi. Jika ia tidak segera berdiri, sistem akan mengunci pintu kamar mandi dan dapur, memaksanya untuk bergerak.
Eksperimen ini juga menyasar produktivitas. Kamera pengawas yang terintegrasi dengan algoritma pengenalan wajah akan mendeteksi jika ia terlihat melamun atau tidak fokus di depan komputer. Saat itu terjadi, monitor akan redup secara otomatis dan kipas angin di ruangan akan menyala dengan kecepatan penuh, menciptakan gangguan fisik yang tak bisa diabaikan.
Yang menarik dari eksperimen ini bukanlah teknologinya, melainkan dampak psikologis yang ditimbulkannya. Sang pengguna mengaku merasa cemas dan tertekan hanya dalam hitungan jam. Rumah yang seharusnya menjadi tempat paling aman justru berubah menjadi sumber stres utama.
"Saya tahu semua ini hanya kode yang saya tulis sendiri, tapi tetap saja, rasanya sangat mengerikan," tulisnya dalam laporan eksperimen tersebut. "Ini membuktikan bahwa potensi penyalahgunaan teknologi rumah pintar sangatlah nyata, bahkan ketika kita sendiri yang mengendalikannya."
Eksperimen ini menjadi pengingat keras tentang garis tipis antara otomatisasi yang membantu dan pengawasan yang menindas. Di era di mana asisten suara, kamera keamanan, dan sensor pintar sudah menjadi barang umum di rumah-rumah Indonesia, pelajaran dari eksperimen ini menjadi semakin relevan.
Kisah ini menyoroti pentingnya kesadaran akan data dan kontrol. Banyak pengguna rumah pintar di Indonesia mungkin belum menyadari bahwa perangkat mereka bisa diprogram untuk melakukan hal-hal di luar fungsi standarnya. Home Assistant, sebagai platform open-source, memberikan kebebasan penuh kepada penggunanya untuk menulis kode otomatisasi apa pun.
Kebebasan ini adalah pedang bermata dua. Di satu sisi, ia memungkinkan inovasi dan kustomisasi tanpa batas. Di sisi lain, ia membuka celah bagi eksperimen yang berpotensi merusak kesejahteraan mental, baik yang dilakukan oleh pemilik rumah sendiri maupun oleh pihak lain yang tidak bertanggung jawab.
Pada akhirnya, eksperimen "Big Brother" ini membuktikan satu hal: teknologi hanyalah alat. Yang menentukan apakah ia menjadi pembantu yang setia atau pengawas yang kejam adalah niat dan etika dari orang yang memprogramnya.