YOGYAKARTA — Lagu dengan lirik “Buah apa yang paling manis? Buaahhlil…” yang awalnya ramai sebagai bentuk sarkasme terhadap Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia, kini justru berpotensi memperkuat personal branding sang menteri.
Fajar Junaedi menilai pergeseran makna ini terjadi karena mekanisme distribusi konten di media sosial yang tidak lagi peduli pada niat awal pembuatnya.
“Awalnya lagu ini dibaca sebagai sindiran. Namun, ketika terus direproduksi, diputar, dan digunakan berulang kali di berbagai platform, sarkasme itu menjadi banal. Yang semula tajam berubah menjadi hiburan,” jelasnya, Rabu (3/6/2026).
Menurut Fajar, sarkasme merupakan salah satu ekspresi yang kerap digunakan masyarakat digital Indonesia untuk menyampaikan kritik. Namun, ketika sebuah konten memiliki engagement tinggi, algoritma akan terus mendorongnya ke audiens yang lebih luas tanpa memedulikan konteks awalnya.
“Semakin tinggi engagement sebuah konten, semakin besar pula peluangnya untuk didistribusikan kepada lebih banyak pengguna. Algoritma tidak peduli dengan niat awal pembuatnya,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa lagu MBG kini telah berkembang melampaui tujuan awalnya. Konten tersebut digunakan dalam berbagai video kreatif, remix musik, hingga hiburan lintas generasi.
Fajar menyoroti respons Bahlil dan Partai Golkar yang justru memilih menanggapi fenomena ini secara santai. Strategi itu dinilai efektif untuk meredam potensi eskalasi kritik sekaligus mengubah percakapan publik menjadi lebih positif.
“Alih-alih bersikap defensif atau marah, mereka justru menerima dan merangkul meme tersebut. Akibatnya, citra yang terbentuk menjadi lebih dekat, lebih santai, dan lebih mudah diterima publik,” katanya.
Dalam kondisi tersebut, Fajar melihat lagu MBG justru berpotensi memperkuat personal branding Bahlil. Konten yang lahir dari ruang kritik publik berubah menjadi eksposur yang memperkenalkan sosok menteri kepada audiens yang lebih luas.
Fajar menekankan bahwa fenomena ini menunjukkan betapa kaburnya batas antara kritik, hiburan, dan promosi dalam ekosistem media sosial. Semua jenis konten diproses melalui logika algoritma yang sama, yakni berdasarkan tingkat interaksi pengguna.
“Ini menunjukkan bahwa di era algoritma, sebuah sarkasme tidak selalu berakhir sebagai kritik. Dalam kondisi tertentu, ia justru dapat menjadi instrumen personal branding yang sangat efektif,” pungkasnya.