Ketua Tim Teknis Pembangunan Sekolah Rakyat DIY, Sri Wahyudi, mengatakan seluruh unsur proyek saat ini difokuskan untuk memastikan target penyelesaian sesuai jadwal. Evaluasi rutin dilakukan untuk mengidentifikasi hambatan di lapangan sekaligus memastikan progres pembangunan lebih cepat dari jadwal awal.
"Kami tidak ingin membuang waktu. Target kami jelas, yaitu melakukan percepatan di semua lini tanpa sedikit pun mengurangi standar kualitas bangunan," ujar Sri Wahyudi kepada wartawan, Senin (1/6/2026).
Untuk mempercepat pekerjaan, tim teknis menerapkan pola manajemen proyek yang lebih agresif. Selain pembagian jam kerja menjadi tiga shift, pengawasan terhadap distribusi material bangunan dilakukan secara real time agar tidak terjadi keterlambatan pasokan yang menghambat konstruksi.
Sri Wahyudi menjelaskan saat ini seluruh kebutuhan material pembangunan telah tersedia sehingga proses pengerjaan berjalan tanpa hambatan berarti. Sinkronisasi antara penyedia material, arsitek, dan pekerja di lapangan disebutnya kini jauh lebih cair.
"Kendala birokrasi dan logistik di lapangan sudah kita pangkas. Hasilnya, deviasi progres mingguan kita selalu menunjukkan tren positif alias lebih cepat dari jadwal yang direncanakan semula," imbuh Wahyudi optimistis.
Sekolah Rakyat Gulurejo dirancang dengan konsep keberlanjutan lingkungan. Salah satu fasilitas yang dibangun adalah kolam retensi di dalam kompleks sekolah untuk menampung limpasan air hujan sebelum dialirkan keluar kawasan, guna meminimalkan potensi erosi dan kerusakan lingkungan.
"Kalau hujan nanti air ngumpul di kolam retensi, agar tidak langsung mengalir sehingga tidak merusak lingkungan sekitar," tutur Sri Wahyudi.
Kolam retensi tersebut juga akan dilengkapi lintasan jogging dan kemungkinan dimanfaatkan sebagai area budidaya ikan, sehingga memberi nilai tambah bagi masyarakat sekitar.
Kepala Seksi Penanganan Fakir Miskin Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kulonprogo, Rosiman, menegaskan kegiatan belajar mengajar di Sekolah Rakyat Gulurejo akan mulai berjalan pada tahun ini. Proses penerimaan peserta didik tidak dilakukan melalui sistem pendaftaran terbuka sebagaimana sekolah pada umumnya.
Calon siswa akan dijaring melalui mekanisme penjangkauan yang melibatkan pendamping Program Keluarga Harapan (PKH), Badan Pusat Statistik (BPS), serta Pemerintah Kabupaten Kulonprogo.
"Skema perekrutan siswa melalui mekanisme penjangkauan ke siswa bukan melalui pendaftaran. Penjangkauan dilakukan dengan verifikasi pendampingan PKH, BPS dan Pemkab," tegasnya.