DI YOGYAKARTA — Al-Nassr memastikan gelar juara Saudi Pro League untuk pertama kalinya sejak 2019, Kamis lalu, setelah menekuk Damac 3-1 di Stadion Alawwal. Dua gol Ronaldo di babak kedua menjadi penentu. Namun, torehan itu tak sepenuhnya menghapus noda performa buruknya seminggu sebelumnya.
Lima hari sebelum pesta juara, Al-Nassr dipermalukan oleh Gamba Osaka di final AFC Champions League Two—setara Liga Europa Asia. Ronaldo menjadi bulan-bulanan usai pertandingan. Cuplikan video yang memperlihatkan minimnya pergerakan, pressing, dan peluang yang gagal ia konversi viral di media sosial.
Yang lebih parah, ia langsung meninggalkan lapangan begitu peluit akhir berbunyi, melewatkan seremoni pemberian medali dan trofi. Mantan bek Al-Nassr, Hussein Abdulghani, tak segan melontarkan kritik keras. "Ronaldo adalah beban bagi tim. Ia hanya mencetak gol dari bola mati. Ia terlalu punya kuasa di tim, tapi seharusnya ia ditarik keluar jika tidak dalam performa terbaik," ujarnya.
Tekanan semakin besar karena Al-Nassr nyaris kehilangan gelar di tangan rival abadi, Al-Hilal, sembilan hari sebelumnya. Saat unggul 1-0 dan Ronaldo sudah ditarik keluar, kiper Bento melakukan blunder fatal di menit ke-98. Tabrakan dengan bek sendiri membuat bola masuk gawang, skor imbang, dan Al-Hilal memupus pesta juara yang sudah di depan mata.
Situasi itu membuat laga melawan Damac berlangsung menegangkan. Sadio Mane dan Kingsley Coman sempat membawa Al-Nassr unggul 2-0, tapi Damac memperkecil kedudukan dan hampir menyamakan skor. Kenangan buruk melawan Al-Hilal kembali menghantui. Di saat itulah Ronaldo muncul. Sebuah tendangan bebas melengkung melewati kerumunan pemain pada menit ke-62 memecah kebuntuan. Sepuluh menit kemudian, ia menyambar bola liar dan melepaskan tembakan keras ke sudut gawang.
Dua gol itu menggenapkan koleksi Ronaldo menjadi 28 gol di liga musim ini. Namun, gelar Pemain Terbaik Saudi Pro League justru jatuh ke tangan rekan setimnya, Joao Félix. Pemain pinjaman dari Chelsea itu tampil konsisten sepanjang musim dan perlahan mengambil alih tugas eksekutor tendangan bebas dari Ronaldo.
Bagi pelatih Portugal, Roberto Martinez, situasi ini menjadi sinyal. Ronaldo memang masih bisa diandalkan di momen krusial, tapi performa buruk di level Asia dan sikapnya yang kontroversial usai kekalahan final patut diwaspadai. Jika ingin sukses di Piala Dunia, Ronaldo harus rela menjadi pemain tim—bukan sekadar bintang yang dilayani. Jika ia bisa berbagi peran dengan Félix seperti di Al-Nassr, Portugal mungkin punya cerita berbeda musim panas ini.