DI YOGYAKARTA — Mikel Arteta akhirnya mempersembahkan trofi liga untuk Arsenal di musim penuh ketujuhnya sebagai manajer. Kepastian itu datang tanpa mereka harus bermain, setelah City gagal memanfaatkan peluang memperkecil jarak di Vitality Stadium.
Bournemouth unggul lebih dulu melalui penalti Eli Junior Kroupi di babak pertama. City baru bisa menyamakan kedudukan lewat sundulan Erling Haaland pada menit ke-90+3, namun itu terlambat untuk memperpanjang persaingan gelar.
Hasil imbang ini mengunci posisi Arsenal di puncak dengan 88 poin, unggul empat angka dari City yang hanya menyisakan satu pertandingan. The Gunners akan bertandang ke Crystal Palace di laga terakhir sebagai juara.
Tekanan sebenarnya sudah diberikan Arsenal sejak Senin (18/5) saat mereka menang tipis 1-0 atas Burnley berkat gol Kai Havertz. Kemenangan itu memaksa City wajib menang atas Bournemouth untuk menjaga asa, tetapi pasukan Pep Guardiola justru gugup.
Arsenal melewati empat pertandingan terakhir tanpa kebobolan satu gol pun—sebuah soliditas yang menjadi fondasi keberhasilan mereka musim ini. Declan Rice, gelandang yang direkrut dengan harga mahal, menjadi motor permainan dan pemimpin mental tim.
“Kami tahu di dalam diri kami punya keyakinan dan masih bisa memenangkannya (setelah kalah dari City),” ujar Rice. “Tapi ini emosional karena melihat dari mana klub ini berasal dalam 10 tahun terakhir—pasang surut. Saya tidak ada di sini sebelumnya, tapi saya tahu dan mendengarnya. Klub ini layak mendapatkan hal-hal baik dan kami bekerja keras untuk itu.”
Kegagalan ini menjadi pahit bagi City yang musim depan akan ditinggal Guardiola setelah 10 tahun berkuasa. Mantan bek City, Micah Richards, melontarkan kritik tajam. “Selamat untuk Arsenal, tapi dari City kami berharap lebih. Saat semuanya ada di tangan mereka, mereka tidak bisa menyelesaikannya. Ini hari yang buruk,” katanya.
City kehilangan poin kritis saat melawan Everton dan Bournemouth di dua laga terakhir—sebuah kemerosotan yang tak biasa terjadi pada tim sekaliber mereka.
Arsenal masih berpeluang mengukir sejarah dengan meraih gelar ganda. Mereka akan menghadapi Paris Saint-Germain di final Liga Champions, Sabtu (30/5) di Budapest. Jika menang, itu akan menjadi trofi Si Kuping Besar pertama dalam sejarah klub.