YOGYAKARTA — Produser Come and See Pictures, Tia Hasibuan, mengungkapkan bahwa penggunaan dubbing dilakukan karena karakteristik pasar perfilman Thailand dan Kamboja yang lebih akrab dengan film berbahasa lokal. Keputusan ini diambil setelah tim produksi mempelajari kebiasaan menonton masyarakat setempat.
“Kebetulan memang Thailand sama Kamboja, itu memang kayaknya mereka terbiasa. Film-filmnya memang banyak yang di-dub ke bahasanya mereka,” kata Tia di Jakarta, Sabtu (16/5/2026).
Tia menjelaskan, proses pengisian suara untuk versi Thailand sepenuhnya dikerjakan oleh distributor setempat. Strategi ini dinilai efektif untuk meningkatkan penerimaan penonton sekaligus memperluas akses film Indonesia di luar negeri.
Namun, tidak semua negara tujuan distribusi akan menggunakan metode yang sama. Beberapa pasar seperti Singapura, Malaysia, dan Vietnam tetap mempertahankan audio asli berbahasa Indonesia dengan tambahan subtitle terjemahan.
“Namun, tidak semua negara yang akan di-dub,” kata Tia.
Sebelum merambah pasar internasional, Ghost in the Cell sukses mencatatkan 3,2 juta penonton di bioskop Indonesia. Capaian tersebut menjadi modal penting bagi rumah produksi untuk memperluas distribusi global.
Come and See Pictures menargetkan film garapan sutradara Joko Anwar itu dapat tayang di 86 negara secara bertahap hingga akhir 2026. Selain Thailand, film ini juga dijadwalkan tayang di Taiwan pada Juni mendatang.
Distribusi internasional ini menjadi bagian dari upaya memperkuat penetrasi film Indonesia di pasar global. Pendekatan yang disesuaikan dengan karakter tiap negara, seperti penggunaan dubbing di Thailand dan Kamboja, diyakini dapat memperkenalkan karya sineas nasional kepada penonton mancanegara secara lebih efektif.