BANTUL — Penambahan pasaran Paing di Pasar Burung Singosaren membuka kesempatan bagi puluhan pedagang merpati dan burung kicau untuk membuka lapak dua kali dalam sepekan. Sebelumnya, transaksi hanya terpusat pada pasaran Legi sehingga kawasan pasar yang terbatas kerap dipadati pengunjung saat hari pasaran tiba.
Warsito menjelaskan bahwa usulan penambahan hari pasar muncul dari kalangan pedagang sendiri. Sebagian dari mereka selama ini harus menempuh perjalanan jauh ke pasar burung di wilayah Sleman atau Bambanglipuro untuk tetap berjualan di luar jadwal Legi.
"Ya meskipun waktu pasaran Paing tidak seramai saat Legi, tapi itu biasa. Lama kelamaan juga nanti ramai, karena antusiasmenya memang tinggi," ujar Warsito, Senin (21/9/2026).
Pasar Singosaren telah menjadi lokasi perdagangan burung dan unggas selama sekitar enam hingga tujuh tahun terakhir. Aktivitas tersebut berkembang setelah pedagang unggas yang sebelumnya berjualan di kawasan Kotagede berpindah ke Singosaren.
Lokasinya yang berdekatan dengan Terminal Giwangan membuat pasar ini ramai didatangi pedagang maupun pehobi burung dari berbagai daerah. Pengunjung yang datang tidak hanya berasal dari Bantul, tetapi juga dari Sleman dan Gunungkidul.
"Kalau pas momen-momennya, pas hari libur biasanya ramai sekali. Banyak pedagang, banyak pengunjung. Penggemar merpati itu yang paling banyak," kata Warsito.
Jenis unggas dan burung yang diperdagangkan di Pasar Singosaren cukup beragam. Selain merpati, terdapat kenari, trucukan, prenjak, montis, murai, dan jenis burung lainnya.
Dari sejumlah jenis tersebut, burung trucukan menjadi salah satu yang cukup diminati penghobi di kawasan Pasar Singosaren. Burung kelas atas seperti murai dan kenari juga kerap diburu penggemar yang datang dari luar daerah.
"Kalau burung yang kelas-kelas itu kan harganya mahal. Banyak itu penggemar-penggemar yang datang ke sini dari mana-mana," ujarnya.
Ramainya aktivitas perdagangan terlihat dari jumlah pedagang yang berjualan di Pasar Singosaren. Warsito memperkirakan jumlah pedagang merpati dapat mencapai lebih dari 20 orang, sementara pedagang burung jenis lainnya sekitar 30 orang.
"Kalau merpati kalau datang paling tidak 20 lebih. Kalau burung jenis lain ada sekitar 30-an. Kawasannya ya terbatas, makanya kalau hari pasaran desak-desakan begini," katanya.
Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan penambahan pasaran Paing. Dengan adanya hari pasar tambahan, aktivitas perdagangan tidak hanya terkonsentrasi pada pasaran Legi yang selalu padat.
Pedagang burung Pasar Singosaren, Rujito, mengatakan penambahan pasaran Paing cukup membantu aktivitas pedagang. Tambahan waktu berdagang juga memberikan pilihan kepada pembeli untuk datang ke pasar.
"Adanya tambahan pasaran Paing ini ya cukup membantu pedagang. Kami jadi punya kesempatan berjualan lebih sering dan pembeli juga punya pilihan waktu untuk datang," kata Rujito.
Rujito menyebut bertambahnya hari berdagang berpotensi meningkatkan pendapatan pedagang. Namun, besaran dampaknya terhadap omzet belum dapat dihitung karena pasaran Paing masih tergolong baru dan tingkat transaksi belum menyamai pasaran Legi.
"Memang sekarang belum bisa dibandingkan karena pasaran Paing masih baru. Tetapi kalau nanti semakin ramai, tentu bisa menambah pemasukan pedagang," pungkasnya.