19 Kelompok Tampil di JFC 2026 Malioboro, Kostum Lurik Warnai Peringatan HUT Ke-81 RI di Jogja

Penulis: Dedi Supriadi  •  Minggu, 23 Agustus 2026 | 15:34:02 WIB
Ribuan pengunjung menyaksikan 19 kelompok peserta melintasi kawasan Malioboro dalam Jogja Fashion Carnival (JFC) 2026.

YOGYAKARTA — Ribuan pasang mata tertuju pada kemegahan kostum berbahan lurik khas DIY saat 19 kelompok peserta melintasi kawasan Malioboro dalam Jogja Fashion Carnival (JFC) 2026. Event garapan Dinas Pariwisata (Dispar) DIY ini menjadi salah satu magnet utama peringatan HUT Ke-81 Kemerdekaan RI di Yogyakarta.

Mewakili Gubernur DIY, Sekretaris Daerah DIY Ni Made Dwipanti Indrayanti memimpin langsung flag off pawai dari Regol Barat Kompleks Kepatihan. Kehadirannya menandai dimulainya parade yang mengusung tema Hangrengkuh Sesotya Tuhu, yang bermakna memeluk permata hati yang sejati.

Tradisi dan Kreativitas Berpadu di Panggung Malioboro

Ni Made menegaskan Jogja merupakan ruang pertemuan antara tradisi dan kreativitas. Warisan budaya, menurut dia, tidak hanya dipertahankan sebagai peninggalan masa lalu, tetapi terus dihidupkan dan ditafsirkan kembali dalam karya baru yang relevan dengan perkembangan zaman.

"Di ruang inilah imajinasi mendapatkan panggung, keterampilan memperoleh apresiasi, dan kekayaan budaya memperoleh kemungkinan-kemungkinan baru untuk berkembang," ujarnya.

Tema Hangrengkuh Sesotya Tuhu menjadi pengingat bahwa kekuatan Jogja terletak pada kemampuannya merawat akar budaya tanpa kehilangan keberanian untuk menumbuhkan cabang-cabang baru. Tradisi memberikan identitas dan kedalaman, sedangkan kreativitas menghadirkan daya hidup serta kemungkinan baru.

Kostum Lurik Jadi Simbol Identitas dan Kemerdekaan

Kepala Dinas Pariwisata DIY Atik Sudarmi menjelaskan, para peserta tampil dengan kostum megah berbahan lurik khas DIY. Material tersebut dipadukan dengan berbagai unsur yang disesuaikan dengan tema JFC 2026 dan momentum Hari Kemerdekaan Republik Indonesia.

Dalam konteks JFC 2026, Sesotya atau permata hati tidak dimaknai sebagai benda material, melainkan rasa, hati, dan akal budi yang menjadi kekayaan paling berharga dalam diri manusia. Ajang ini juga didukung penuh oleh Dana Keistimewaan sebagai bentuk kolaborasi seni, budaya, dan fashion.

JFC 2026 Jadi Magnet Wisatawan ke Yogyakarta

Atik berharap penyelenggaraan karnaval ini turut mendongkrak kunjungan wisatawan domestik maupun mancanegara. JFC dinilai menjadi media promosi efektif untuk memperkenalkan atraksi dan destinasi wisata DIY kepada masyarakat yang lebih luas.

"Keunikan dan daya tarik karnaval diharapkan dapat menarik perhatian wisatawan yang ingin merasakan pengalaman budaya lokal di DIY," ungkapnya.

Pemda DIY berkomitmen terus mendorong hadirnya ruang yang memungkinkan kreativitas masyarakat berkembang. Ruang tersebut diharapkan membuka kesempatan bagi talenta baru sekaligus memperkuat kolaborasi lintas generasi dan lintas disiplin, serta memberikan nilai tambah bagi kebudayaan maupun ekonomi kreatif.

"Mari kita jadikan Yogyakarta sebagai ruang di mana akar budaya tetap kukuh, kreativitas terus tumbuh, dan setiap karya memperoleh tempat untuk bersinar," lanjut Ni Made.

Reporter: Dedi Supriadi
Sumber: jogjapolitan.harianjogja.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top