SLEMAN — Pentas seni jathilan di Dusun Ngampel, Kalurahan Hargobinangun, Kapanewon Pakem, Sleman, berubah menjadi ajang penguatan identitas budaya Yogyakarta. Cucu Sri Sultan Hamengku Buwono X, RM Gusthilantika Marrel Suryokusumo atau Mas Marrel, hadir berbaur dengan warga dan menikmati pertunjukan yang didukung Dana Keistimewaan (Danais) itu pada Jumat (21/8/2026) malam.
Kehadiran Mas Marrel disambut antusiasme warga yang memadati lokasi. Baginya, keramaian ini menjadi bukti bahwa kesenian tradisional masih memiliki tempat penting di tengah kehidupan masyarakat Jogja.
“Saya mewakili dari Keraton Yogyakarta sangat senang karena acara kebudayaan seperti ini selalu kita berusaha di Daerah Istimewa Yogyakarta ini bisa kita tumbuhkan,” ujarnya.
Mas Marrel menegaskan bahwa keberlanjutan kebudayaan sangat bergantung pada keterlibatan generasi muda. Anak-anak dan remaja perlu diberi ruang untuk mengenal, menyaksikan, bahkan terlibat langsung dalam berbagai kegiatan seni tradisional.
“Besok mereka-mereka ini yang bisa membawa budaya-budaya Jogja terus lestari. Itulah yang bikin Jogja itu tetap istimewa,” katanya.
Ia juga menyoroti peran penting Dana Keistimewaan dalam mendukung keberlangsungan kebudayaan. Menurutnya, dana tersebut bukan sekadar dukungan pembiayaan kegiatan, melainkan harus memberi dampak nyata terhadap upaya menjaga warisan budaya.
“Esensi utama dari Dana Keistimewaan ini adalah supaya budaya-budaya kita tetap terus lestari, kita tidak lupa,” ucapnya.
Di tengah dinamika Yogyakarta yang kini menjadi tempat bertemunya masyarakat dari berbagai daerah, Mas Marrel menilai identitas budaya lokal tetap harus dijaga. Mobilitas pendatang yang tinggi tidak seharusnya menggerus akar sejarah dan tradisi yang ada.
“Walaupun banyak orang datang dari luar Jogja, dari seluruh Indonesia datang ke Jogja, tapi kita tetap kuat dengan budaya dan sejarah kita,” ujarnya.
Antusiasme warga yang hadir malam itu sekaligus membantah anggapan bahwa budaya Jawa mulai ditinggalkan masyarakat. “Saya buktikan malam ini itu tidak benar jika ada orang yang menyebut orang Jawa sudah hilang budayanya,” tegasnya.
Lurah Hargobinangun Fajar Akbar Kurniawan mengatakan pentas jathilan tidak sekadar menjadi hiburan dalam perayaan kemerdekaan. Kegiatan tersebut menjadi kesempatan untuk mempertemukan warga sekaligus memperkenalkan kesenian lokal kepada generasi muda.
“Ini bukan sekadar pentas hiburan. Kami ingin anak-anak dan generasi muda melihat langsung bahwa kesenian tradisional masih hidup dan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat,” kata Fajar.
Di tengah suasana yang semakin meriah, Mas Marrel mengajak masyarakat mempertahankan semangat kemerdekaan sekaligus kebanggaan terhadap identitas Yogyakarta. Seruan tersebut kemudian disambut antusias oleh warga yang memadati lokasi pertunjukan.
“Kalau saya teriak Indonesia, teriak Merdeka. Kalau saya teriak Yogyakarta, panjangkan istimewa!” seru Mas Marrel.
Pentas jathilan di Dusun Ngampel pun menjadi lebih dari sekadar pertunjukan seni. Di tengah kemeriahan perayaan HUT ke-81 RI, kegiatan tersebut menjadi pengingat bahwa pelestarian budaya membutuhkan ruang, partisipasi masyarakat, dan keterlibatan generasi muda agar nilai-nilai budaya Jogja tetap hidup dari satu generasi ke generasi berikutnya.