SLEMAN — Pemerintah Kabupaten Sleman melalui Dinas Pertanian, Pangan, dan Perikanan (DP3) menargetkan penambahan lahan budidaya kopi seluas 110 hektare pada tahun 2026. Area pengembangan baru ini akan dipusatkan di tiga kapanewon, yakni Turi, Pakem, dan Cangkringan, yang merupakan kawasan lereng selatan Gunung Merapi.
Kepala DP3 Sleman, Liem Astuti, menegaskan tahun depan menjadi fondasi bagi pengembangan hilirisasi Kopi Merapi. "Targetnya tidak hanya meningkatkan produksi kopi namun mengintegrasikan dari hulu hingga hilir. Proses ini akan dilakukan secara bertahap," ujarnya, Kamis (23/7/2026).
Saat ini, total perkebunan kopi di Sleman tercatat seluas 372,9 hektare. Rinciannya, 296,8 hektare ditanami kopi robusta dan 76,1 hektare kopi arabika. Dari lahan yang ada, produksi rata-rata mencapai 715 kuintal biji kopi kering per tahun.
Kepala Bidang Hortikultura dan Perkebunan DP3 Sleman, Eko Sugianto Ngadirin, menjelaskan lahan baru seluas 110 hektare tersebut akan memanfaatkan lahan milik petani yang belum tergarap optimal. "Sebagian besar lahan tersebut masih berupa kebun campuran dan area yang ditumbuhi semak-semak," katanya.
Untuk mendukung perluasan kebun, Balai Besar Perbenihan Tanaman Perkebunan Surabaya bersama Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian akan menyalurkan bantuan bibit kopi dan pupuk organik. Sementara itu, Pemerintah Kabupaten Sleman melalui APBD menyediakan pendampingan dan pembinaan bagi petani.
"Dukungan Pemkab Sleman dari APBD untuk pendampingannya berupa pembinaan petani. Jadi kolaborasi," ujar Eko.
Kopi robusta menjadi varietas dominan di Sleman, dengan luas mencapai 241,53 hektare. Komoditas ini telah mengantongi perlindungan Indikasi Geografis (IG), yang menjadi identitas penting produk kopi asal lereng Merapi. Produk kopi lokal ini juga telah diberi nama Kopi Nirmala Giri oleh Sri Sultan Hamengku Buwono X saat panen perdana di Cangkringan pada pertengahan Juni 2025.
DP3 Sleman menyiapkan program pemasaran bernama Koling Merapi atau Kopi Keliling Merapi. Konsepnya, penjualan kopi menggunakan gerobak keliling yang akan ditempatkan di lokasi keramaian dan destinasi wisata di Sleman. Pelaksanaannya akan melibatkan pelaku usaha pengolahan kopi di Pakem dan Cangkringan.
Peluncuran Koling Merapi masih menunggu waktu pelaksanaan. Ke depan, program ini juga akan mendapat dukungan dari Bank Indonesia melalui program tanggung jawab sosial perusahaan atau CSR.
Melalui perluasan kebun dan penguatan hilirisasi ini, DP3 Sleman terus memperkenalkan karakter kopi lokal yang tumbuh di lereng Gunung Merapi dengan tema "Kopi Lereng Merapi, Hangatnya Lekat di Hati."