Wamenekraf Irene Umar Dorong Pelaku Ekraf Gunakan Narasi Budaya Lokal untuk Tembus Pasar Global, Roemah Koffie Jadi Contoh

Penulis: Fiqri Ramadhan  •  Sabtu, 18 Juli 2026 | 14:36:01 WIB
Wamenekraf Irene Umar menyoroti pendekatan Roemah Koffie yang mengangkat cerita budaya Nusantara dalam memasarkan produk kopinya.

JAKARTA — Wakil Menteri Ekonomi Kreatif Irene Umar secara spesifik menyoroti pendekatan yang dilakukan Roemah Koffie dalam memasarkan produknya. Bukan sekadar biji kopi berkualitas, mereka menyajikan pengalaman multisensori yang mengangkat cerita budaya Nusantara.

“Roemah Koffie telah melakukan hal yang sangat luar biasa dengan menyajikan storytelling yang kuat, bukan hanya dari biji kopinya melainkan juga dari cerita budaya di belakangnya. Keunikan budaya inilah yang menjadi kekuatan utama untuk membawa nama Indonesia bersinar di panggung global,” kata Irene dalam keterangan resmi di Jakarta, Jumat.

Filosofi Cublak Suweng dalam Secangkir Kopi

Varian Cublak Suweng yang diperkenalkan merupakan kopi signature blend. Nama dan konsepnya terinspirasi dari kehangatan permainan tradisional serta lagu daerah Jawa Tengah yang sarat makna pencarian kebahagiaan sejati. Filosofi ini diwujudkan melalui komposisi unik, yaitu perpaduan seimbang 50 persen kopi Robusta Temanggung dan 50 persen Arabika Gayo.

Kombinasi tersebut, menurut pihak Roemah Koffie, melambangkan keharmonisan antara kekuatan rasa pahit yang solid dengan kompleksitas aroma yang khas. Acara peluncuran varian ini pun dikemas secara menarik melalui pertunjukan teatrikal tradisional, seremoni penandatanganan kemasan, hingga sesi bernyanyi bersama untuk menghadirkan pengalaman berkesan bagi pengunjung.

Kontribusi Subsektor Kuliner Tembus Rp 29,57 Triliun

Irene menegaskan bahwa kekuatan narasi ini adalah nafas dari ekonomi kreatif yang mendorong kolaborasi. Ia mengajak seluruh pelaku ekraf untuk terus belajar dan berinovasi tanpa melupakan akar budaya bangsa.

“Melalui semangat kolaborasi, jiwa untuk selalu belajar, dan kecintaan mendalam terhadap kopi, mari kita bersama-sama membawa produk lokal ini menuju kancah internasional. Dengan landasan kasih sayang, mari wujudkan diplomasi kopi yang membanggakan dan membawa kehangatan bangsa di mata dunia,” tutur Wamen Ekraf.

Dorongan ini sangat relevan mengingat subsektor kuliner memiliki kontribusi dominan terhadap ekonomi kreatif nasional. Data Kemenekraf mencatat kontribusi subsektor kuliner mencapai 41,06 persen pada tahun 2025, dengan nilai investasi sebesar Rp29,57 triliun. Performa ini dipertegas oleh tingkat pertumbuhan 8,44 persen serta nilai ekspor periode Januari-November yang berhasil menembus angka 720,8 juta dolar AS.

Sinergi Hulu ke Hilir untuk Produk Inovatif

Ke depan, Kemenekraf berkomitmen memperkuat sinergi dengan pelaku usaha. Dukungan akan diberikan secara berkelanjutan, mulai dari program edukasi untuk kesejahteraan petani di wilayah hulu hingga perluasan pasar di sektor hilir. Targetnya, produk-produk inovatif berbasis cerita budaya lokal semakin mudah menembus pasar global.

Reporter: Fiqri Ramadhan
Sumber: jogja.antaranews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top