DI YOGYAKARTA — Kerja sama ini bukan sekadar proyek eksperimental. Direktur Utama Pertamina, Simon Aloysius Mantiri, menyebut kolaborasi dengan raksasa aviasi global itu sebagai investasi jangka panjang untuk membangun industri bahan bakar penerbangan berkelanjutan dalam negeri. "Dengan potensi sumber daya domestik yang melimpah, kapabilitas pengolahan Pertamina, serta keahlian global Boeing di sektor aviasi, kami optimistis kolaborasi ini akan mempercepat pengembangan industri SAF yang berdaya saing," ujarnya, Rabu (8/7).
Boeing mencatat lalu lintas penumpang udara di Asia Tenggara diprediksi tumbuh rata-rata 7% per tahun, dengan kebutuhan mencapai 4.885 pesawat baru hingga 2044. Di tengah lonjakan itu, SAF disebut sebagai solusi paling realistis untuk menekan emisi karbon. Dalam bentuk murni, bahan bakar ini mampu mengurangi jejak karbon hingga 80% dibandingkan bahan bakar jet konvensional.
Managing Director Boeing Indonesia, Indra Duivenvoorde, menekankan posisi strategis Indonesia. "Indonesia memiliki posisi yang sangat strategis untuk memimpin pengembangan penerbangan berkelanjutan di Asia Tenggara," katanya. Boeing akan mendukung dari hulu ke hilir: mulai dari identifikasi bahan baku, pengembangan teknologi, hingga program edukasi dan pelatihan.
Ruang lingkup kerja sama mencakup penjajakan potensi bahan baku atau feedstock, pengembangan teknologi, hingga dukungan kebijakan. Pertamina sendiri sudah memulai langkah konkret. Salah satunya melalui proyek Cilacap Biorefinery yang digarap PT Pertamina Patra Niaga. Proyek ini akan memproduksi SAF dan Hydrotreated Vegetable Oil (HVO) dari Used Cooking Oil (UCO) atau minyak jelantah dan limbah berkelanjutan lainnya.
Sebelumnya, Pertamina juga telah memproduksi dan mensertifikasi Pertamina Sustainable Aviation Fuel (SAF), serta mengimplementasikan penggunaannya bersama Pelita Air. Inisiatif ini sejalan dengan komitmen perusahaan dalam mendukung target Net Zero Emission 2060 dan capaian Sustainable Development Goals (SDGs).
Laporan ASEAN 2050 SAF Outlook menempatkan Indonesia di peringkat tiga besar ASEAN dengan potensi surplus produksi SAF terbesar. Dengan kerja sama ini, pemerintah dan industri berharap ekosistem SAF nasional bisa terbangun lebih cepat, menciptakan nilai tambah ekonomi sekaligus menekan emisi sektor penerbangan yang terus bertumbuh.