Pencarian

3 Agenda Oktober di Jogja Jadi Pasar Pelaku Ekonomi Kreatif, 420.000 UMKM DIY Ikut Cari Perputaran

Minggu, 04 Oktober 2026 • 08:02:31 WIB
3 Agenda Oktober di Jogja Jadi Pasar Pelaku Ekonomi Kreatif, 420.000 UMKM DIY Ikut Cari Perputaran
Ketua DPW Gekrafs DIY Sarah Azzahra menyebut agenda Oktober di Jogja berpengaruh besar terhadap perputaran ekonomi.

JOGJA — Ketua DPW Gerakan Ekonomi Kreatif Nasional (Gekrafs) DIY, Sarah Azzahra, menyebut event memiliki pengaruh besar terhadap perputaran ekonomi karena mempertemukan pelaku usaha dengan masyarakat dan wisatawan. Geliat itu terlihat dari sejumlah agenda HUT Kota Jogja ke-270 tahun yang berlangsung pada Oktober.

Sarah mencontohkan Simfoni 1001 Batik yang digelar 3 Oktober sebagai ruang berkumpulnya UMKM, asosiasi, dan organisasi. Malioboro Run juga dinilai mampu menggerakkan perputaran ekonomi bagi pelaku usaha di sekitar kawasan wisata Malioboro.

"Kalau kita bicara terkait event dan lainnya itu sangat berpengaruh. Karena memang dari kita bicara Oktober ini saja, mungkin di tanggal 3 Oktober besok sudah ada Simfoni 1001 Batik, itu juga kita mengumpulkan UMKM, asosiasi dan organisasi untuk nantinya bisa tergabung dalam acara tersebut," kata Sarah saat ditemui di Kompleks Balai Kota Jogja, Jumat (2/10/2026).

Tiket Kereta ke Jogja Sulit Didapat pada Awal Oktober

Mobilitas wisatawan yang datang ke Jogja turut memperkuat aktivitas event. Pada awal Oktober, Sarah menyebut tiket kereta menuju Jogja sulit didapat karena tingginya permintaan.

"Sehingga saya rasa kita berbicara di bulan Oktober, khususnya Hari Jadi Kota Jogja 270 tahun, itu juga sebagai perputaran ekonomi yang sangat baik bagi Kota Jogja sendiri, bagi UMKM, dan bagi DIY," ujarnya.

Permodalan dan Branding Jadi Kendala Utama UMKM DIY

Besarnya jumlah pelaku usaha belum otomatis membuat produk ekonomi kreatif berkembang. Sarah menilai persoalan yang masih dihadapi antara lain permodalan, branding, hingga kemampuan mengeksekusi ide menjadi produk yang bisa dipasarkan.

"Di DIY sendiri ini kita sangat banyak ide. Tantangannya adalah masih banyak teman-teman, khususnya UMKM, yang sudah punya banyak ide dan beragam, tapi dalam eksekusinya masih ada masalah permodalan dan branding," katanya.

Gekrafs DIY ingin berperan sebagai wadah yang mempertemukan pelaku ekonomi kreatif sekaligus membuka akses terhadap berbagai program dan kolaborasi. Wadah itu dinilai penting agar pelaku tidak berjalan sendiri ketika mengembangkan usaha.

Modal Jogja: Ide dan Gagasan, Bukan Sumber Daya Alam

Anggota Komisi VI DPR RI sekaligus Ketua Umum DPP Gekrafs, Kawendra Lukistian, mengatakan Jogja memiliki modal kuat untuk mengembangkan ekonomi kreatif karena sumber daya utamanya berasal dari ide dan gagasan. Subsektor seperti musik, kuliner, seni pertunjukan, tari, hingga fesyen sudah memiliki ekosistem di Jogja.

"Kita melihat bagaimana banyak sekali musisi yang luar biasa di Jogja ini. Bukan hanya dari sektor musik, kuliner, seni pertunjukan, bahkan tari-tarian, terus dari kain dan segala macam itu sudah menjadi embrio-embrio yang luar biasa untuk menggerakkan ekonomi melalui mesin pertumbuhan baru yaitu ekonomi kreatif," kata Kawendra.

Dia menilai produk dan jasa kreatif dari Jogja perlu dikurasi agar pelaku dengan kualitas terbaik dapat memanfaatkan jejaring nasional maupun internasional.

Wawan Harmawan: Jogja Butuh Pemantik, Bukan Sekadar Banyak Pelaku

Wakil Wali Kota Jogja, Wawan Harmawan, mengatakan posisi Jogja yang tidak memiliki banyak sumber daya alam membuat sumber daya manusia dan industri kreatif menjadi salah satu kekuatan utama daerah. Dia ingin Jogja tidak sekadar memiliki banyak pelaku kreatif, tetapi juga menjadi contoh pengembangan industri kreatif di tingkat nasional.

"Harapan kami sebetulnya kan, kami di Jogja ini cuma butuh pemantik. Pemantik dalam arti dari segi ada yang membantu kapitalnya, membantu edukasi, masalah-masalah yang bisa kita tingkatkan menjadi skill up," kata Wawan.

Wawan menilai pengembangan ekonomi kreatif perlu diarahkan pada langkah konkret agar pelaku usaha kecil dapat naik kelas. Event sepanjang tahun menjadi salah satu ruang untuk mempertemukan karya, pasar, wisatawan, dan pelaku usaha dalam satu ekosistem.

Batas wilayah administrasi juga tidak semestinya menjadi penghalang pengembangan ekosistem tersebut. Industri kreatif dan pariwisata dinilai bersifat lintas wilayah sehingga potensi Jogja perlu dihubungkan dengan ekosistem DIY, nasional, hingga pasar global.

Penguatan ekosistem itu juga menyasar kalangan mahasiswa. Gekrafs Kampus Nasional tengah memperluas pembentukan organisasi di sejumlah kampus.

Follow jogjasatu.id

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: harianjogja.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks