YOGYAKARTA — Perwakilan Penerbit Best, Siti Nur Azizah, menilai Jogja sebagai kota yang ramah wisata. Ketika jumlah kunjungan meningkat, idealnya kesejahteraan masyarakat sekitar ikut terdongkrak, bukan hanya ramai di hotel dan jalanan.
Azizah menggambarkan wisatawan yang datang ke Jogja biasanya dianggap memiliki banyak uang. Mereka menginap di hotel, menggunakan kendaraan wisata, dan berbelanja.
Saat musim liburan tiba, jalanan menjadi macet, bus-bus besar berdatangan, tempat parkir penuh, hotel juga penuh, dan kawasan Malioboro menjadi sangat ramai.
Pertanyaan Kritis: Ke Mana Uang Wisatawan Mengalir?
Azizah mempertanyakan apakah belanja wisatawan itu benar-benar sampai ke kantong warga sekitar. "Nah, yang menjadi pertanyaan, ketika banyak wisatawan datang dan mengeluarkan uang di Jogja, apakah uang tersebut juga ikut masuk ke kantong masyarakat sekitar?" ujarnya.
Dia berharap tingginya kunjungan wisatawan dapat memberikan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat setempat. Pariwisata, katanya, harus mampu menggerakkan ekonomi dan membuka peluang usaha.
"Harus muncul lapangan kerja yang banyak ketika pariwisata meningkat," jelasnya.
Ekosistem Wisata Dinilai Belum Otomatis Sejahterakan Warga
Praktisi pariwisata M. Andri Perdana menyampaikan hal senada. Menurutnya, ekosistem pariwisata yang ada saat ini belum tentu memberikan manfaat yang cukup bagi masyarakat.
Sebutan Jogja sebagai kota pariwisata, kata dia, belum tentu menjadikan masyarakat Jogja otomatis lebih sejahtera. "Pariwisata sebenarnya bukan hanya tentang banyaknya wisatawan yang datang, yang seharusnya memberikan manfaat bagi masyarakat," ungkapnya.
Andri menjelaskan, jika pariwisata berkembang dan jumlah wisatawan meningkat tetapi masyarakat di sekitarnya tidak ikut merasakan manfaatnya, berarti ada sesuatu yang perlu diperbaiki.
"Bagaimana pariwisata bisa menciptakan peluang usaha, meningkatkan pendapatan, dan membawa kesejahteraan bagi masyarakat," ujarnya.
DPRD DIY Dorong Budaya Membaca Lewat Bedah Buku
Wakil Ketua DPRD DIY Budi Waljiman menilai kegiatan bedah buku perlu terus didorong untuk membudayakan membaca. Menurutnya, budaya membaca masyarakat saat ini masih lemah.
Dengan membiasakan budaya membaca, literasi masyarakat akan meningkat. Bertambahnya wawasan membuat masyarakat tidak mudah dipengaruhi informasi yang tidak benar.
"Kalau hari ini tantangannya adalah dibanjiri oleh informasi sehingga sangat mudah mendapatkan informasi," jelasnya.
Budi menceritakan, dahulu untuk mendapatkan informasi tidak mudah. Masyarakat harus mencari buku dengan membeli atau meminjam, serta mencari koran dengan membeli atau membaca di mading.
Alasan Buku Wisata dan UMKM Jadi Pilihan Bedah Buku
Pustakawan Ahli Muda DPAD DIY, Fajar Nugraha, mengatakan buku berjudul "Ragam Wisata di Jogja dan UMKM" dipilih karena sesuai dengan Jogja yang dikenal sebagai daerah wisata sekaligus memiliki banyak UMKM.
Dia menyebut bedah buku tersebut dilaksanakan untuk meningkatkan literasi masyarakat. Buku yang telah dibagikan diharapkan dapat dibaca di rumah sehingga mengajak anggota keluarga lain untuk senang membaca.