DI YOGYAKARTA — Geely EX2 yang baru dipakai enam hari mendadak menolak diisi daya, dan pemiliknya kini melayangkan somasi ke diler. Kasus ini mencuat dari utas 12 unggahan akun @heryanfygunawan di Instagram Threads, menyusul serah terima unit pada Senin (5/10/2026) setelah uang muka lebih dari Rp128 juta dibayarkan.
Kronologi yang dituturkan pemilik akun @heryanfygunawan di Instagram Threads itu memperlihatkan satu titik lemah yang jarang dibahas di brosur: bukan soal jarak tempuh atau fitur, melainkan apa yang terjadi ketika kendaraan listrik baru gagal berkomunikasi dengan charger. Keluarganya hanya mampu memiliki satu mobil untuk jangka panjang, sehingga mobil lama dijual demi uang muka EX2 tipe teratas.
Surat pemesanan kendaraan diteken Sabtu (5/9/2026). Setelah membayar uang muka lebih dari Rp128 juta, pemilik diberi tahu bahwa unit abu-abu berinterior putih yang diincar sudah diambil orang lain dan belum terbarui di sistem.
Unit dengan kombinasi warna tersebut baru diperkirakan tiba akhir tahun. Pemilik akhirnya mengambil unit abu-abu berinterior abu-abu yang siap, dan serah terima berlangsung Senin (5/10/2026).
Masalah muncul tak lama setelah unit dipakai. Baterai EX2 menolak diisi daya, membuat mobil tidak bisa dioperasikan sebagaimana mestinya. Pemilik menyebut kejadian ini terjadi dalam hitungan hari setelah serah terima, bukan setelah pemakaian panjang.
Detail teknis soal penyebab — apakah dari sisi kendaraan, charger, atau sistem manajemen baterai — belum dijelaskan dalam utas tersebut. Geely Indonesia juga belum merilis pernyataan resmi terkait kasus ini.
Kegagalan pengisian daya pada unit baru menyentuh langsung kekhawatiran utama pembeli mobil listrik: keandalan sistem charging. Bagi pemilik yang menjadikan EX2 satu-satunya mobil keluarga, mobil yang tidak bisa diisi daya berarti kendaraan yang tidak bisa dipakai sama sekali.
Kasus ini juga menyoroti prosedur serah terima dan kesiapan stok diler. Unit yang dijanjikan ternyata sudah diambil pihak lain, dan sistem belum diperbarui — persoalan administrasi yang seharusnya tidak dialami pembeli setelah membayar uang muka puluhan juta rupiah.
Pemilik menuntut unit pengganti atau pengembalian dana, dan melayangkan somasi ke diler. Utas 12 unggahan itu memantik reaksi warganet, banyak di antaranya mempertanyakan respons purna jual produsen.
Somasi adalah langkah awal sebelum sengketa dibawa ke jalur hukum lebih lanjut. Belum ada keterangan apakah diler atau produsen sudah menanggapi tuntutan tersebut.
Kasus ini belum cukup untuk menilai keandalan Geely EX2 secara menyeluruh — satu unit bermasalah bukan bukti seluruh lini cacat. Tapi bagi calon pembeli, insiden ini jadi pengingat bahwa uji fungsi charging saat serah terima dan kejelasan prosedur purna jual sama pentingnya dengan membaca spesifikasi baterai di brosur.